Hutan Lindung Tangkoko

Lokasi  : Hutan Lindung Tangkoko – Sulawesi Utara

Bisa dibilang, liburan kami ke Propinsi Sulawesi Utara sangatlah lengkap, mulai dari kuliner nya yang menggugah selera, pemandangan bawah laut nya, wisata kota dan terakhir kami hiking  ke hutan lindung Tangkoko.

Sulawesi_Utara_Kota_Bitung

Hutan lindung Tangkoko berada di Taman Nasional Batuputih yang jarak nya 60 km dari kota Manado, kurang lebih 3 jam berkendara mobil.  Hutan lindung Tangkoko sendiri dikenal dengan sebutan  “Tangkoko Nature Reserve” sebuah kawasan cagar alam yang di dalam nya banyak tersimpan “harta karun” berupa hewan-hewan dan tumbuhan langka yang sudah hampir punah, istimewa nya lagi taman nasional ini terletak di garis Wallace yang memisahkan jenis satwa Asia dan jenis satwa Australia, jadi jangan heran kalau beberapa jenis hewan nya hanya ditemukan di pulau ini saja, seperti  Tarsius, monyet Yaki dan burung Maleo.

burung maleo

Karena itu gak sabar rasa nya untuk berkunjung ke “rumah” Tarsius, membayangkan seru nya masuk-masuk hutan melihat keberadaan si monyet paling kecil di dunia itu. Kesempatan itu datang di hari ke 4 liburan kami. Sejak pagi saya, Ichil dan yan sudah menyusuri jalan raya Bitung, kota terdekat dari kawasan Tangkoko. Sepanjang jalan menuju kota Bitung saja kami sudah disuguhi dengan pemandangan  indah, berupa  gunung  Duasaudara yang  mengiringi perjalanan kami ke arah timur laut Tanah Minahasa.

pelabuhan bitung

Sebelum ke Tangkoko, kami mampir dulu di kota Bitung, sebuah kota pelabuhan yang cukup berkembang dan kami juga menyempatkan untuk melihat pelabuhan Bitung yang terkenal itu.

Jarak dari kota Bitung ke Tangkoko kurang lebih satu jam perjalanan,hanya dengan bermodalkan sebuah peta kami menyusuri jalan ke Tangkoko, ternyata  Rutenya cukup menantang, ruas jalan yang sempit, satu sisi tebing dan satu sisi jurang dan banyak kelokan maut, Yan yang bertugas sebagai supir  harus ekstra hati-hati mengendarai mobil. Akan tetapi, pemandangan disepanjang jalan sangat lah Indah nya, karena diapit oleh beberapa buah gunung yaitu : gunung Tangkoko , gunung Batuangus dan gunung Dua Saudara. Sejauh mata memandang hamparan pohon kelapa tersebar, tidak salah memang jika propinsi ini diberi julukan propinsi nyiur melambai.

sign board hutan tangkoko

Perjalanan penuh liku itu berakhir di sebuah gerbang  yang ditandai dengan poster besar bergambar Tarsius dan Yaki. Saya langsung  mendatangi pos penjaga untuk membeli tiket masuk dan mengurus keperluan untuk menyewa  ranger yang akan mengantar kami bertiga berkeliling di dalam, untuk semua nya kami di kenai biaya Rp. 70.000 per orang. Oh iya, sebelum nya kami juga diharuskan untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu. Dari list nama-nama yang tertera pada buku tamu, saya melihat kebanyakan yang datang kesini adalah turis manca Negara, mungkin berjalan-jalan di tengah hutan bukan lah pilihan yang menarik bagi turis local untuk menghabiskan waktu mereka berlibur.

Papan Dep kehutanan Tangkoko

Kami mulai berjalan, mengikuti Bapak Ranger memasuki hutan, memulai petualangan di hutan lebat ini. Lima belas menit  berjalan kami langsung bertemu dengan pohon-pohon kayu yang  besar, dengan akar pohon yang saking besarnya melintang di atas tanah, bahkan akar nya ini bisa membentuk tangga-tangga sebagai pijakan, begitu juga dengan ranting pohon nya yang bergelantungan. Sepanjang jalan bapak ranger bercerita mengenai  nama-nama dan cerita singkat mengenai tumbuhan dan hewan yang hidup di hutan ini.

Meyusuri hutan tangkoko

hutan tangkoko

Di tengah perjalanan kami bertemu dengan beberapa orang ilmuwan dari german yang sedang melakukan penelitian terhadap monyet Yaki dan kami juga melihat ada beberapa ekor Yaki sedang asyik bermain. Tidak mau ketinggalan, kami pun berhenti dan ikut menonton tingkah lucu sekelompok monyet ber bokong merah tersebut. Kami merasa beruntung dengan pemandangan ini, karena menurut salah satu peneliti itu bilang ke kami bahwa mereka membutuhkan waktu 3 jam lebih untuk mencari  dan bertemu dengan sekelompok Yaki ini.

Sedih rasanya mengetahui Habitat Yaki yang semakin punah, apalagi membayangkan sehari sebelum ke Tangkoko saya melihat Yaki di jual di Pasar Tomohon. Melihat ini, saya berdoa semoga pemerintah propinsi Sulawesi Utara cepat tanggap akan hal ini dan masyarakat nya juga sadar akan penting nya melestarikan hewan langka kebanggaan bumi sulawesi ini.

Yaki hutan tangkoko

Puas bercengrama dengan Yaki, kami pun melanjutkan perjalanan  masuk ke hutan. Hari semakin sore, suasana semakin mencekam, sesekali kami mendengar sahut menyahut suara hewan-hewan penghuni hutan. Tanpa segaja kami melihat se ekor burung yang sangat indah bertengger disebuah pohon. Ada banyak kejutan di hutan lindung ini, karena kami juga bersua dengan se ekor babi hutan yang sedang melintas. Bahkan Bapak Ranger bercerita bahwa masih ada beberapa ekor ular pyhton yang berkeliaran di hutan ini, syukurlah kami tidak bertemu dengan ular itu.

burung hutan tangkoko

Babi hutan taman tangkoko

Tujuan kami berikut nya adalah mencari pohon yang dihuni oleh sekelompok Tarsius. Memang, untuk bertemu dengan Tarsius ini waktu yang cocok adalah di malam hari, pada saat langit gelap, karena Tarsius  akan tidur di siang hari dan mulai mencari makan di malam hari. Berhubung sekarang masih sore dan langit masih terang, kami tidak berharap  banyak bisa bertemu dengan Tarsius, akan tetapi Bapak Ranger punya trik khusus untuk menarik perhatian tarsius agar mau keluar sejenak dari sarang mereka disebuah pohon yang sangat besar. Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya 2 ekor tarsius mau juga keluar dan memakan  belalang yang memang sudah disiapkan bapak ranger sebagai pancingan. Kami pun bisa melihat dan mengambil foto, sekali lagi kami beruntung.

Pohon rumah tarsisius

Tarsius (diantaranya Tarsius tarsier dan Tarsius pumilus) adalah binatang unik dan langka. Primata kecil ini sering disebut sebagai monyet terkecil di dunia, meskipun satwa ini bukan monyet.  Keunikan dari  tarsius adalah ukuran matanya yang sangat besar. Ukuran mata tarsius lebih besar ketimbang ukuran otaknya. Tarsius juga memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri seperti burung hantu. Telinga satwa langka ini pun mampu digerak-gerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa. Habitatnya adalah di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, Siau, Sangihe dan Peleng. tarsius termasuk binatang langka dan dilindungi di Indonesia

Tarsisius tangkoko bersembunyi

Bisa dibilang hutan Tangkoko ini sangat kaya jenis hewan dan tumbuhan nya, seperti layaknya laboratorium alam yang sangat besar. selain itu pesona alam hutan tangkoko ini begitu memukau, karena walaupun berada di area kaki gunung tangkoko, hutan lindung Tangkoko juga berada di tepi laut dengan pantai ber pasir hitam.

Pantai hutan tangkoko

Selama kurang lebih tiga jam kami berkeliling hutan Tangkoko, rasanya belum puas menikmati semoga pesona alam di hutan lindung ini, tapi apa mau dikata, kami tidak mempunyai cukup waktu karena harus kembali ke kota Manado namun begitu, pesona hutan Tangkoko tidak akan terlupakan.

informasi pengunjung  tangkoko

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mountaineering, Our Journey