Sebagai orang yang medapat julukan Soto Woman, saya sangat bahagia setiap kali mengunjungi Jogya, karena di seluruh penjuru kota Jogya saya bisa menemukan penjual soto. Jadilah saya juga memberi julukan kepada kota Jogya sebagai kota Soto.
Berbicara mengenai Soto miroso, semenjak dari Jakarta Ichil udah memberi tahu kalau saya harus mencoba soto miroso.”Ini soto legend banget, dari gue kecil soto ini udah ada, setiap pulang kampung ke Klaten, gue sekeluarga pasti makan soto Miroso setelah mendarat di Adisucipto”, oleh karena itu setelah menikmati kupat tahu pak Budi, kami langsung menuju soto Miroso.
Menurut buku Monggo Mampir,Ungkapan miroso, dalam khazanah kuliner jawa,artinya adalah masakan yang benar-benar membekas rasanya, jadi bagi pengunjung yang pernah sekali mencoba hidangan dari Miroso dipastikan akan langsung kepincut,ketagihan dan kembali lagi.Begitu katanya….
Soto Miroso terletak di jalan Laksda Adisucipto no 168 A, menempati sebuah bangunan dan halaman parkir yang luas. Ketika masuk kedalam jelas terlihat dekorasi dan furniture memang sudah “ber-umur”. Di sudut ruangan saya melihat sepasang mbah kakung dan mbah putri sedang menikmati hidangan soto mereka, mungkin pagi ini kunjungan mereka yang ke 1000 kali sejak mereka masih muda ??
Pagi ini kami memesan soto ayam campur. Campur itu arti nya mencampurkan nasi kedalam mangkok soto. Menurut saya dari segi racikan soto miroso tidak berbeda dengan soto-soto jawa lain nya : toge, irisan kubis, daun seledri, bawang goreng dan pergedel tapi yang istimewa adalah kaldu soto nya, tarikan pertama ketika kita mencicipi, aroma ayam kampung sudah terasa. Kaldu berwarna bening terasa gurih, lembut, enteng tapi tidak mboseni. Bagi saya, tanpa tambahan sambel rawit merah dan kucuran jeruk nipis, rasa soto ini sudah miroso.
Seperti biasa pada warung soto Jawa lain nya, kita akan menemukan side dish seperti sate telur puyuh yang seperti nya sudah menjadi teman setia si Soto. Bersama sate telur puyuh, ikut menemani sate ati ampela, pergedel kentang dan ayam bacem
Tentu saja tidak ketinggalan klethikan :peyek kacang, kerupuk rambak, keripik paru, keripik belut dan macam-macam kerupuk.
Untuk minuman, kami memesan es tape hijau. Saya langsung menyukai es tape hijau Miroso ini.
Tidak heran soto Miroso yang sudah di kelola oleh generasi ketiga sejak tahun 1970 an ini juga terkenal dengan sebutan soto pak Beye, karena memang keluarga Presiden SBY merupakan pelanggan setia soto miroso, sehingga SBY sering memboyong lapak miroso ke istana negara jika ada acara jamuan kenegaraan.
Seperti nya Soto Miroso ini benar-benar punya nilai nostalgia yang tinggi buat Ichil, sambil menikmati lezat nya nya soto, Ichil bercerita, kalau soto ini masih tetap sama rasanya sejak dahulu dan almarhumah neneknya selalu mengajaknya ke sini setiap kali pulang dari rumah sakti untuk cuci darah…
Soto miroso
Jl. Laksda adisucipto no 168A
Telp 0274 485946














