Restoran Ny. Filly

Sampai sekarang saya masih bingung terhadap standard yang di ambil restoran atau tempat makan untuk menentukan harga jual mereka. Sebagai tukang jajan, terkadang saya masih suka dibuat kaget ketika melihat total kerusakan yang harus saya bayar setelah memuaskan selera kuliner saya. Sebenarnya definisi mahal itu relatif ya, tergantung kemampuan isi dompet masing-masing individu, belum tentu mahal menurut saya, mahal juga menurut yang lain.

Menurut saya pribadi yang bukan pengusaha resto, sebuah tempat makan dibolehkan kasih harga tinggi kalau: pertama, bahan-bahan makanan yang dijual memang udah mahal dari sononya, seperti harus di import dari luar, atau lagi gak musim. Alasan kedua, kalau kita makan di hotel berbintang, apalagi kalau bintangnya banyak, pasti aneh banget terdengarnya  setelah kita makan di hotel berbintang itu kita terus misuh2 bilang mahal. Alasan ketiga, makan di restoran dengan menu international. Alasan ke empat, makanan yang untuk membuatnya butuh ketelatenan atau keahlian khusus, alasan ke lima karena lokasi atau suasana. Kurang lebih, dengan beberapa alasan itu saya akan pura-pura budeg kalo dapet bill yang bikin dompet saya berteriak kencaang.

 Curhat saya di atas dilatar belakangi oleh pengalaman saya makan di sebuah restoran manado di daerah jakarta pusat, Rumah makan ikan bakar Ny. Filly. Berdasarkan review dari seorang teman yang bilang kalau sop ikan kuah asam nya enak banget, disebuah hari minggu siang saya meluncur kesana. Tidak sulit menemukan restoran manado ini diantara jejeran cafe-cafe di komplek taman ismail marzuki ini. Saya masuk kesebuah restoran yang  terkesan jamdul dan muram. Ternyata memang restoran ini sudah ada sejak lama (lupa tepatnya, tapi gk selama jamu nyonyameneer)

 Pengunjung tidak terlalu ramai walau ini waktunya makan siang. Setelah memilih tempat duduk, saya langsung memilih menu : 1 ekor ikan mas kuah asam,

1 kepala kakap bakar, cah kangkung polos, 2 porsi nasi dan 2 gelas es teh tawar. Untuk rasa boleh dibilang tidak mengecewakan, kuah asam nya  terasa segar walau masih ada sedikit jejak rasa lumpur pada ikan, kepala kakap bakarnya juga tidak mengecewakan begitu juga dengan cah kangkung polosnya. Yang sedikit bikin kecewa, lamanya pelayanan yang diberikan, menu makanan keluar satu per satu dengan jeda waktu yang cukup lama dan yang bikin males sayur nya kok datengnya malah belakangan. Tapi untuk rasa, secara keseluruhan tidak mengecewakan.

 Tapi setelah semua habis disantap datanglah bill yang membuat saya melongo membaca deretan harganya,

1 ekor ikan mas kuah asam (Rp 50.000)

sup Ikan mas 

1 kepala kakap(Rp. 72.000)

Kepala Ikan Bakar 

1 piring kangkung cah polos(Rp. 25.000)

Tumis Kangkung 

2 nasi (Rp. 14.000) dan 2 es the tawar (Rp. 10.000)

 Kalau tadinya saya bilang makananya enak, pas liat harganya saya langsung teriaak nggak enaaaak. Menurut saya, satu porsi sop ikan mas dengan ukuran sedang yang ditemani dengan daun kemangi, daun bawang, tomat dan butiran rawit saya bilang itu mahaal,mengingat proses masaknya bisa di kategorikan mudah. Begitu juga dengan kepala kakap bakar dan cah kangkung polosnya. Kalau porsinya gede sih gak apa-apa juga, ini porsinya juga biasa aja bisa dibilang mungil. 

Tapi yah itu, seperti penjelasan saya di awal tadi, sampai saat ini saya masih bingung dengan standar yang diambil oleh the owner untuk menentukan harga. Tapi mungkin disana letak seninya buat saya yang doyan jajan, kejutan-kejutan tak terduga ketiga mendapat bill, bisa kaget karna mahal, tapi bisa juga kaget karna murah.

 Ny. Filly

Pengalaman saya makan di restoran Nyonya Firly saya ceritakan ke temen saya yang berasal dari manado, komentar teman saya itu: “ohh saya tau tempat itu, duluuu banget opa saya sering ngajak saya makan disana, tapi setelah opa saya meninggal 3 tahun yang lalu saya tidak pernah kesana lagi”. Saya jadi mikir..jangan-jangan itu yang menjadikan restoran ini walau mahal tapi gak tutup juga, yaitu ada nilai historis nya, tempat ber-nostalgia, jadi kesimpulan saya, untuk bisa menikmati restoran manado ini dengan “ikhlas”  jangan melihat makanan apa yang diramu tapi rasakan lah nilai historisnya. Bagi saya yang tidak memiliki kenangan indah pada restoran ini rasanya saya malas untuk datang kembali…

 Rumah makan ikan bakar Ny. Filly

Jl. Cikini raya 73 komplek TIM jakarta pusat telp 021 31936535

Jam buka : 10:00 – 21.30



7 responses to “Restoran Ny. Filly”

  1. sinta says:

    hahahahay, ketawa baca pengalaman dan bagian teriakan ‘gak enaaak’…

    … btw tumis kangkungnya terlihat sangat menggoda

  2. kucink says:

    kekekekeke.. gak ngajak2 sih…

  3. sisca aryani says:

    jeng…, udah mampir nih ya, kutinggalkan “jejakku” di rumah maya-mu yang canteq kayak pemiliknyah 😉
    btw, aku mayan sering makan di situ…emang suka bikin saket hate kalo bayar.tapi udah kadung
    powling in lop…hehehe

  4. fairyteeth says:

    Hai haaii… salam kenal.. harga makananan nya lucu dan bervariasi ya ^^ sayang jaraknya jauh dari rumah ku…

    btw, bisa minta imel nya gak, buat sedikit ngobrol2 suatu acara yang ada hubungan nya sama makanan dan masak-memasak.

    Kali-kali kalian berdua tertarik, bisa menghubungi kita di dita[dot]firdiana[at]gmail[dot]com

    Makasiiih… ^^ ditunggu ya kabarnyaa

  5. anton says:

    saya barusan diajak jalan sama temen,….EEE gak taunya diajak ke RM Filly. Saya gak tau apanya yang istimewa di sini…….. temen saya pesen kepala ikan bakar , saya ngangguk aja, so kami pesen 3 kepala ikan bakar, 1 sayur kangkung , 1 bakul nasi, 2 air putih, 2 es lemon tea, dan 1 jeruk hangat. setelah selesai makan, dia bayar…saya jadi melongo,…..empat ratusan ribu,..warung kayak gini…????.apa gak salah pertanyaan dalam hatiku,….so aku search di internet,….jumpalah di situs ini……yah…menurutku sih rasanya mah gak enak,..saya aja maksain mau menghabiskan kepala ikannya…karena gak enak sama temenku so saya paksain aja makannya….herannya kok temenku itu suka ya…….masih enakan gurami bakar di stasiun gondangdia bagian tengah….emmmm mak nyus…banget…murah lagi…..nggak promosi ye …itu warung juga gak tau punya siapa….

  6. Febee says:

    Halo Anton…

    Ternyata kita punya pengalaman yang sama yah ?? hihihihi..pasti kapok yah untuk datang ke Nyonya Lili lagi, kecuali di bayarinkali yaaa…samaaa..saya juga seperti nya begitu. Btw, gurame bakar di stasuin gondangdia nya boleh juga tuh..nama restoran nya apa yaa ?? thanks buat sharing…

  7. Rastiana Puspitarini says:

    Dear writer,

    Salam Kenal,..
    Kami sebagian di kantor suka sekali makan disitu. Pertamanya saya juga gak “ngeh” klo harganya semahal itu karna selalu dibayarin.hehee…saya tersadar klo harganya “sedikit” gak masuk akal ketika saya mengajak ibu saya ke restoran itu. Shock rasanya melihat bill yang begitu boombastis. But, that’s OK sih.,,demi ibu yang sesekali main ke jakarta (saya rantauan dari Jogja).

    klo ditanya kapok atau enggak, yaaa kapok lah klo bayar sendiri.,,tapi klo dibayarin ya mau-mau ajah.,,hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *