Traveling dan Kopi – Aeropress vs French press

Traveling dan kopi bagai sebuah mantra buat saya, keduanya sangat lekat dan saling berkait sehingga rasanya tidak mungkin dilepaskan.

Kegilaan saya dengan kopi menjadikan saya selalu ingin menikmati kopi terbaik, hal ini terkadang mengharuskan saya untuk menyeduh kopi sendiri, sesuai selera dan sesuai mood untuk menikmatinya, dan inipun berlaku ketika saya traveling, karena itulah saya mulai memilih alat seduh kopi yang ringkes, ringan dan bisa nyelip diantara tumpukan barang di ransel untuk menemani setiap traveling.

Desa Baduy frenchpress

Pada mulanya saya membeli alat seduh “French press”, rasanya cukup lama saya bersahabat dengan alat seduh ini, dari sisi harga sangatlah ekonomis untuk membeli sebuah alat french press ditambah lagi bentuknya yang cukup ringkes, sehingga di beberapa petualangan saya kerap membawa French press ini, seperti Gunung Gede, Gunung Rinjani dan Maluku serta trekking di seputaran Bogor.

Segaranak frenchpress

French press, dalam proses penyeduhan nya dengan merendam kopi lalu dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan plat besi (pluger), kopi bersih tanpa ampas pun siap tersajikan, dikarenakan proses rendam seperti ini sering flavor tidak bisa tereksploitasi dengan baik, namun menikmatinya didepan danau segaranak atau ditengah lapangan edelweiss Surya kencana rasanya bisa menyempurnakan.

Ora resort frenchpress

Ada beberapa hal yang menjadi catatan untuk French press berdasarkan pengalaman saya, pertama ketika kita melakukan traveling dengan kondisi minim air, proses seduh dengan cara pressing ini membuat ampas kopi akan tertekan sampai dasar gelas kaca, sehingga ketika mencucinya membutuhkan banyak air untuk mendorong ampas untuk bisa keluar. Begitu pun pada bagian plunger, seringkali ampas kopi masuk kedalam ulir-ulirnya, sehingga kalau digunakan di gunung harus tutup mata, proses pencucian dilakukan seadanya, tak bisa terelakan kadang pada seduhan kedua masih sedikit menyisakan ampas dari kopi seduhan pertama, karena harus hemat air.

Surken frechpress

Selanjutnya, materi french press yang terbuat dari kaca, seringkali cukup merepotkan dalam proses packing, terutama kalau dibawa naik Gunung. Untuk mengakali biasanya saya mengorbankan 1 kaos yang akan saya pakai untuk membungkus frenchpress ini, sehingga cukup terlindung ketika mengalami benturan kecil didalam ransel, dan selama ini cara ini cukup efektif, frenchpress bisa selamat tidak pernah retak.

Ora resort 1 frenchpress

Alat seduh selanjutnya adalah Aeropress, bisa dikatakan baru hitungan bulan saya menggunakan alat seduh ini, namun sudah membuat saya jatuh cinta sehingga alat seduh ini selalu saya bawa kemana saja, apakah traveling cukup lama atau sekedar saya bersepedah di hari minggu ke taman lalu menikmati secangkir kopi beralaskan rumput hijau ditengah kepungan bisingnya kota, oase baru buat saya.

Karang jahe aeropress

Aeropress, sebuah alat seduh kopi yang oleh peciptanya di klaim sebagai alat pembuat espresso, sehingga cukup menghebohkan dikalangan brewer kopi. Proses penyeduhannya mirip dengan frech press yaitu dengan proses pressing, perbedaan nya dengan tabung plastik dan plunger yang terbuat dari karet akan menghasilkan tekanan udara yang digunakan untuk melakukan proses ekstrasinya, serta menggunakan penyaring berbasis kertas, walau ada pilihan plat cakram juga sebagai penyaringnya.

taman langsat Aeropress

Dibeberapa forum dikatakan bahwa alat ini bukan sebagai alat pembuat espresso, namun dalam beberapa kesempatan saya pernah mencoba untuk membuat espresso dengan aeropress, untuk saya campurkan dengan susu (cappuccino) atau dengan es krim (avogatto), inipun cukup memuaskan saya, sampai disuatu waktu saya bisa memiliki handpresso – amin.

Dengan alat ini, saya menjadi sangat keranjingan, karena kopi yang dihasilkan terasa bersih, sehinga flavor bisa terekspose dengan baik, walau untuk body masih perlu di adjust dengan beberapa teknik dan ini sangat menarik. Dari sisi packaging nya pun jauh lebih ringkes dan aman, karena bentuknya memanjang sangat tidak memakan tempat, serta terbuat dari plastik, sehingga seringkali saya bisa selipkan dimana saja pada ransel tanpa perlu perlindungan khusus.

Tamblingan aeropress

Untuk proses pencucian nya pun cukup sederhana serta hemat air. Ketika proses pressing ampas kopi yang tertekan kebawah sampai pada cap nya, maka cukup buka cap nya dan dorong terus, ampas kopi akan keluar semua dan langsung terbuang tanpa sisa, cukup bilas dengan air sedikit untuk menghilangkan ampas yang masih menempel pada karet plunger nya.

Stasiun tugu aeropress

Dari dua alat penyeduh kopi yang menjadi teman perjalanan, aeropress saya rasa memang paling cocok buat saya, walaupun harus merogoh kocek lebih dalam untuk pembelian nya, namun kepuasan dari hasil kopinya bisa mengobati lara proses pembelian nya. Jadi buat yang masih bingung mau beli apa untuk menyeduh kopi, kembalikan lagi apa yang mau dicari dari kopi yang akan anda nikmati.

desa tembi aeropress

selamat menikmati kopi sahabat, tidak ada kopi yang tidak enak hanya soal selera yang membedakan. Salam kopi Indonesia.

*catatan: French press saya ternyata tidak terlantar begitu saja, disebuah coffeshop kota hujan Bogor, saya diajarkan cara membuat foam untuk cappuccino secara manual dengan menggunakan frenchpress, hasilnya cukup firm walaupun masih banyak bubble, tetapi rasanya bisa membawa suasana mewah dengan menikmati secangkir cappuccino diatas gunung atau ditengah pulau – kenapa tidak?

Leuwipanjang aeropress



4 responses to “Traveling dan Kopi – Aeropress vs French press”

  1. fifan says:

    mbak,,itu bikin kopinya selalu dari bean? berarti kemana2 bawa grinder dong?

    bagi tutorial aranya bikin milk froth pake french press dong? makasih

  2. chile says:

    Hi Fifan,
    Yup benar, saya selalu bawa hand grinder porlex.
    ok kapan-kapan saya buatkan bagaimana buat milk froth dengan french press
    Ichil

  3. Leli says:

    Waah tapi sekilas kalau dari bentuk.. bagusan yang frenchpress yah mba ^^
    Hehehehe temen saya juga lagi asik asiknya nyeduh kopi pakai yang beginian nih.
    Aku yang cewek malah ndak paham, sukanya bikin kopi yang tinggal di aduk.
    Bahkan baru tau kalau ada jenis jenisnya dari blog ini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *