Pundi-Pundi – Ubud

Bebek dan ubud sepertinya tidak bisa dipisahkan, dengan pengalaman yang kurang menyenangkan dengan salah satu restaurant bebek yang sangat termasyhur itu mengakibatkan kami mencari alternative restoran bebek lain untuk kami kunjungi, rasanya kok gak afdol  kalau ke Ubud gak makan bebek. Untung nya setelah  saya berbincang dengan petugas hotel tempat kami menginap selama di Ubud, petugas hotel itu merekomendasikan  kami mencoba bebek bakar di restoran pundi-pundi.

Ketika kami tiba disana, kami menemukan sebuah bangunan berbentuk pendopo tanpa jendela dan pintu yang menjadikan resotran itu seperti menyatu dengan alam, deretan obor pada pematang sawah dan sebuah air mancur di atas kolam ikan yang di penuhi bunga teratai disamping restoran membuat tempat itu terlihat cantik. Kami sengaja memilih meja diluar agar puas menikmati pemandangan indah malam itu.

Pundi2_all_s

Liburan ke Bali pada bulan mei bertepatan dengan masa liburan di Eropa,sehingga ubud cukup padat dengan turis dari luar. Begitu juga dengan restoran Pundi-pundi malam itu yang di dominasi bule-bule. Agak ciut juga waktu  mau masuk, mengingat  perbedaan pelayanan yang biasanya berlaku di bali untuk turis local seperti kami. Ternyata dugaan kami salah, pelayanan yang kami terima sama, tidak kalah ramah perlakuannya dari turis luar. Ketika menu bebek goreng yang di prder Ichil tidak muncul juga, Pelayanya meminta maaf dengan sopan “Ma’afkan saya, ini adalah kesalahan saya” sikap yang sangat jarang saya temui di kondisi Bali tempoe dulu bahkan  di Jakarta sekalipun.

Karena niat awal nya memang mencari bebek, kami langsung order dua jenis menu bebek, saya memilih menu bebek bakar dan Ichil memilih menu bebek  goreng. Rekomendasi petugas hotel tadi tidak salah, empuknya bebek tersaji sempurna dengan potongan yang cukup besar, soal rasa bisa disebut aman bagi lidah Indonesia, mengingat customer utama mereka adalah turis luar.  Nasi putih yang bercampur irisan daun seledri dan bawang goreng dibentuk kerucut ala nasi tumpeng menjadi teman hidangan bebek yang disuguhkan bersama sambal matah bali yang tersohor itu serta sejumput urap Bali. Ada sedikit perbedaan dari sambal matah buatan restoran pundi-pundi ini, mereka menambahkan herb dan irisan tipis daun jeruk dalam sambal matah mereka, yang hingga sekarang saya tidak tau apa nama herb yang menjadikan rasa sambal matah nya terasa berbeda.

Malam itu kami tutup dengan menu Tropical Fruits yang terdiri dari tiga potong irisan nanas bakar dan semangka dengan topping ice cream vanilla dan cery. Salah satu fasilitas yang diberikan restoran Pundi-pundi adalah Free WIfi, tampa menyia-nyiakan kami langsung memanfaatkan fasilitas itu untuk men-upload foto-foto selama liburan dengan ditemani oleh secangkir capuchino hangat. Tidak terasa sudah pukul sebelas malam, kami harus segera meninggalkan tempat ini untuk bersiap-siap karena besok akan kembali ke Jakarta. Lezatnya makanan, keramahan pelayanan yang kami terima dan cantiknya pemandangan mebuat saya berniat akan kembali lagi jika saya ke Ubud.

Pundi-pundi
Jl. Pengosekan, Ubud
Tel: (0361) 308-4005



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *