Ora Beach – 2

Pagi di beranda

Keheningan pagi dihancurkan oleh histeria Ichil yang gaduh membangunkan kami dari tidur. Rasa kantuk yang masih menempel langsung hilang mendengar teriakan Ichil, saya dan Euis bergegas beranjak dari tempat tidur dan menyusul Ichil yang sudah duluan berada di beranda. Kami bertiga begitu  antusias melihat pemandangan di luar, tidak sabar melihat kejutan apa yang akan kami temui, seperti anak kecil yang dibangunkan orang tua nya untuk membuka kado di malam natal. Pemandangan  pagi ini sangat kontras dengan malam tadi ketika kami datang. Kegelapan malam berganti dengan langit jingga, Sang surya belum sempurna menampakan diri, dari balik bukit seburat cahaya nya mengintip malu-malu. Jauh di depan mata terlihat desa Saleman dari balik kabut, tebing-tebing tinggi berdiri kokoh, sambung menyambung  bagai bingkai raksasa di tepi lautan. Siluet pagi memantul di permukaan laut yang tenang. Kami bertiga seperti terbius melihat semua yang disuguhkan di depan mata, baru tersadar oleh kecipak air dibawah kaki, tampak ratusan ikan warna-warni berkejar-kejaran di antara terumbu karang,rasanya kami sedang berdiri diatas aquarium yang luas. Iya benar, semua ini adalah kado untuk kami pagi ini.

sunrise di ora

Pagi di ora

Akhir nya kami benar-benar tersadar beberapa saat kemudian. Baru  kami semua ribut dengan rencana masing-masing.  Ichil  sudah tidak sabar mau langsung ganti baju renang dan mau langsung nyebur bergabung dengan ikan-ikan,  Euis mau ngopi dulu dan saya kepingin jalan pagi ke dermaga. Akhir nya kami memutuskan untuk menyalakan trangia, merebus air dan membuat secangkir kopi untuk kami masing-masing bersama dengan banana cake yang dibuat oleh Euis di Jakarta, special untuk dinikmati di Ora. Keinginan Euis terwujud sudah, sarapan pagi dengan secangkir kopi dan banana cake memandang laut Ora. Pagi yang sempurna.

Breakfast

Ada banyak kegiatan yang ditawarkan oleh Ora Resort, selain snrokling di sepanjang bibir pantai kawasan Ora Resort, para tamu juga bisa menghikuti  tour tebing batu dan mata air belanda, tur sungai Salawai, mendaki bukit Hatu Pahu-pauh,tur pulau Raja, pulau tujuh  dan pulau Kelelawar. Untuk masing-masing tour, kita diharuskan untuk membayar lagi dengan harga yang berbeda-beda, kecuali tour ke tebing tinggi dan mata air Belanda yang sudah termasuk dalam pake yang kami ambil, jadi kami tidak perlu membayar lagi.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelum nya, kalau saya, Ichil dan Euis liburan ke Ora bersama dengan tujuh orang teman kami, akan tetapi mereka menginap di desa Sawai. Rencana nya hari pertama ini kami bertiga akan dijemput oleh mereka untuk melakukan tour ke sungai Salawai, pulau raja, tebing batu dan mata air Belanda. Sesuai perjanjian kami akan dijemput jam 9 pagi setelah sarapan.

Resto ora

ruang makan ora

SUNGAI SALAWAI

Sebenar nya saya sedikit khwatir dengan cuaca, karena saya melihat pagi ini sinar matahari tidak bersinar sempurna. Di beberapa tempat saya melihat  awan tebal menggantung. Tepat jam 9 pagi, boat yang menjemput kami sudah tiba. Kami memulai  pertualangan hari ini menuju ke Sungat Salawai.  Perjalanan dari Ora menuju sungai Salawai dapat di tempuh dalam waktu satu jam. Pemandangan sepanjang jalan sangat indah, beberapa buah pulau kecil kami lalui. Syukur nya, saat berangkat matahari bersinar terik. Sungai Salawai adalah sebuah sungai yang menyambung dengan lautan luas. Setelah mengarungi lautan luas, kita akan masuk dalam sebuah trek menyempit yang kanan kiri nya dipenuhi pohon bakau dan pahon sagu, arus air juga semakin tenang, ini menandakan kita sudah berada di aliran Sungai Sawai.

mendung menggantung

kapal sungai

Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi mendung ,  perahu yang kami tumpangi terus melaju, keheningan alam menemani kami, bermacam-macam jenis tumbuhan rawa di sisi kiri dan kanan terus mengikuti ,  ada beberapa tumbuhan merambat yang terjuntai  hingga menutupi laju perahu kami. Semua dipercantik dengan banyak nya kupu-kupu yang  berterbangan, hinggap dari satu pohon ke pohon lain nya. Saya penasaran dengan kupu-kupu ini, karena selama seminggu saya di Maluku,  saya menemukan banyak kupu-kupu dengan berbagai corak –corak indah. Setelah saya browsing, ternyata memang kepulauan Maluku merupakan kepulauan yang memiliki  spesies kupu-kupu dari marga Ornithoptera atau kupu-kupu sayap burung, jeni kupu-kupu ini yang tidak akan ditemui dibelahan dunia manapun. Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa negeri kita adalah seonggok tanah surga yang dilemparkan ke bumi. Sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi berbagai makhluk hidup di dunia ini. Tidak terkecuali jenis serangga seperti Kupu-kupu. Bahkan diantaranya hanya terdapat di Indonesia.

sungai salawai

tanaman salawai

Selain menikmati keindahan sungai Salawai, tujuan lain nya adalah untuk melihat pembuatan sagu. Sejak di bangku sekolah dasar, kita sudah diajarkan kalau Sagu merupakan makanan pokok masyarakat di Maluku. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Maluku, saya baru melihat dengan mata kepala sendiri kalau Maluku memang memiliki hutan luas yang ditumbuhi sagu, dan setelah saya browsing di internet, ternyata memang Maluku memilki hutan  sagu nomor dua terluas di Indonesia, sesudah Papua, jadi memang sudah sepantas nya orang Maluku mengkonsumsi sagu  dalam keseharian nya.

alat proses sagu

Selama  menyusuri sungai, saya melihat ada beberapa tempat pembuatan sagu yang masih dilakukan secara traditional. Pertanyaan saya, kenapa pembuatan sagu ini adanya di pinggir sungai ? hasil pengamatan saya,  mungkin alasan nya hanya untuk ke praktisan saja. Jadi, setelah batang pohon sagu yang banyak tumbuh di pinggir sungai  ditebang, batang sagu langsung ditarik dengan menggunakan perahu, lalu dibawa ke tempat pembuatan sagu yang tidak jauh dari sungai, baru kemudian  sagu tersebut diolah. Proses penjualan sagu juga tidak rumit, ada banyak tengkulak-tengkulak pencari sagu yang keliling untuk membeli sagu. Sagu-sagu tersebut  kemudian  dijual ke kota.

angkut sagu

Saya merasa beruntung, karena dapat melihat langsung mulai dari tumbuhan sagu, tempat pembuatan, sampai dengan mendengar penjelasan  cara pembuatan sagu. Berawal dari batang sagu yang dibersihkan dan dipotong-potong, kemudian batang sagu yang mengandung tepung dihancurkan, sampai cukup hancur sehingga  pati mudah dipisahkan dari serat-serat batang. Pati yang  dipisahkan dilarutkan  dilarutkan dan disaring tepungnya di tempat tersendiri. Pelarutan tepung sagu dilakukan dengan cara diremas dengan tangan, dan dibantu dengan penyiraman air.Terakhir, tepung sagu ini kemudian diendapkan, dan dipisahkan dari airnya. Menarik sekali proses perkenalan saya dengan sagu ini, mulai dari pembuatan nya sampai dengan saya juga belajar mengolah sagu menjadi masakan Papeda.

proses sagu

Sagu
kapal sungai bersandar

Tidak dapat ditahan, akhirnya hujan turun sangat deras. Sedangkan  kami di tengah  laut dalam perjalanan menuju Pulau Raja.

PULAU RAJA

Speed boat yang membawa kami tidak memiliki atap untuk tempat berlindung. Jadi ketika hujan lebat semua basah kuyup. Saking lebat nya hujan, saya tidak bisa melihat dengan jelas ke sekitar, semua tertutup air hujan, bahkan mata saya sakit terkena air yang dibawa angin. Jangan tanya bagaimana dingin nya cuaca pada saat itu, saya menggigil kedinginan  dan ujung-ujung jari saya sampai berkerut. Kami semua di dalam Speed boat hanya bisa menunduk terdiam melawan hujan dan dingin, berharap semoga pulau raja cepat terlihat dan kami bisa berteduh.

bakar ikan sawai

Pulau raja merupakan sebuah pulau kecil tidak berpenghuni, di dalam nya hanya ada gubuk-gubuk tidak terawat, yang biasa digunakan untuk tempat berteduh untuk makan siang. Memang rencana nya kami akan makan siang disini. Semua perbekalan dibuka, api unggun segera dibuat, selain untuk membakar ikan, berfungsi juga sebagai penghangat badan. Beberapa ekor ikan yang sudah disipakan untuk dibakar langsung diolah. Semua dikerjakan dengan sigap oleh operator speed boat.

ikan bakar 1

Tidak ada yang istimewa dari pulau ini selain tempat singgah. Walaupun memiliki pasir yang putih, tetapi tidak ada terumbu karang dan ikan hias di sekitar pulau, jadi pulau raja ini memang bukan tempat yang cocok untuk snorkeling. Setelah semua ikan siap dibakar dan lauk pauk lain nya dihidangkan, kami semua semua menikmati makan siang, berlindung di gubuk tengah pulau diantara tetesan air hujan, dengan menu utama adalah kan bakar dan sambal colo-colo.

ikan bakar

Menu makan siang

Pulau raja

 

TEBING BATU SAWAI

Tebing batu 1

Sebenarnya ada satu tempat lagi yang sempat kami sambangi setelah makan siang di Pulau Raja. Satu spot snorkeling di dekat pulau Raja. Menurut operator kapal, disini pemandangan bawah lautnya bagus, terumbu karang nya banyak, begitu juga dengan jenis ikan nya. Tapi sayang, kondisi sehabis hujan membuat air laut keruh, sehingga kami tidak bisa melihat semua keindahan yang dibilang operator kapal. Oleh karena itu, setelah berenang beberapa saat kami langsung menuju Tebing Batu.

Tebing batu 2

Kawasan Tebing Batu ini merupakan tempat  yang cukup populer di kawasan Ora. Karena hampir semua operator trip Ora menjadikanTebing Batu tujuan wajib. Seperti saya ceritakan di awal, kalau Ora dikelilingi oleh tebing-tebing batu. Salah satu sudut tebing batu yang cantik berada di tebing batu sawai ini, selain penampakan tebing batu yang terlihat gagah juga pasir putih pantai dan laut biru di tepi tebing. Keuninkan lain nya dari tebing batu sawai adalah kita juga bisa menemukan rongga diantara tebing yang menyerupai gua. Sangat disayangkan, air laut yang keruh menghalangi kami untuk snorkeling, padahal menurut informasi daerah sekitar tebing batu merupakan tempat snorkeling yang indah.

Gua Tebing batu 1

Gua Tebing batu 2

Gua Tebing batu

Karang daun pink

karang dan ikan biru

AIR MATA BELANDA

Tujuan kami berikut nya adalah Air Mata Belanda. Sebuah tempat yang tidak jauh dari Ora resort. Menurut penjelasan dari petugas Ora Resort, disebut mata air Belanda Karena dahulu didekat mata air Belanda merupakan markas Belanda untuk mengejar pemberontak RMS. Tapi saya tidak menemukan jejak bangunan Belanda yang disebut. Unik nya dari air mata Belanda ini adalah, walau berjarak beberapa meter dari bibir pantai, mata air belanda mengeluarkan air tawar yang air nya sangat dingin.

mata air belanda

mata air belanda 2

mata air belanda 1

Sore datang menghampiri, setelah bermain sejenak di air mata belanda, kami pun kembali. Sebelum rombongan teman-teman kami kembali ke penginapan Sawai, mereka mengantar kami dulu ke Ora resort dan singgah sebentar untuk foto-foto.  Saat nya kami berpisah, esok hari mereka akan kembali ke Ambon, sedangkan saya, Ichil dan Euis akan tinggal di Ora beberapa hari lagi dan melanjutkan liburan kami ke Pulau Saparua.

Tebing batu

Note :

Selama kami di Ora, ada sedikit kejadian yang merusak kenyamanan liburan, kejadian ini berawal dari sebuah informasi dari teman kami yang menginap di Sawai bahwa kami diharuskan membayar biaya speed penjemputan dengan nominal yang cukup mahal, kenapa kami katakan cukup mahal karena kami mengetahui tarif yang berlaku oleh ora resort untuk rute tersebut, sehingga kami bermaksud mengkonfirmasi dengan pemilik kapal nya, mengenai harga tersebut.

Seperti cerita kami diatas, dimana kami berangkat ke Ambon bersama beberapa teman, namun tidak semuanya menginap di Ora Resort, tetapi kami akan melakukan Island hoping dan snorkeling bersama pada hari Pertama, dengan kesepakatan kami patungan menyewa boat untuk trip keliling Ora. Pada pagi yang ditentukan, kami bersiap untuk di jemput boat yang kami sewa bersama, namun tiba-tiba kami mendapatkan informasi dari teman yang ada di Lisar bahari, kalau pihak mereka keberatan dengan menjemput kami yang ada di Ora, alasannya tidak enak dengan pemilik Ora. Kami bisa meyakinkan mereka kalau tidak ada masalah dengan itu semua, karena sejak di Jakarta kami sudah informasikan hal ini dengan pemilik Ora Resort, dan mereka tidak ada masalah sama sekali.

Setelah berhasil meyakinkan, akhirnya kami di jemput, namun anehnya kami di jemput dengan speed boat kecil untuk diantarkan ke desa sawai dan berpindah ke boat yang besar dimana teman-teman kami menunggu, ketika selesai kegiatan seharian, kami kembali diantarkan dengan boat tesebut sampai ke Ora.

Kami mengirimkan pesan singkat ke Pak Ali selaku pemilik penginapan pemilik kapal sekaligus pemilik penginapanan lisar bahari di desa sawai untuk menanyakan apakah benar kami dikenakan tarif tersebut, dikarenak tariff boat dari Ora tidak sebesar itu.

Dengan Bahasa yang cukup santun, kami berusaha paling tidak mendapatkan harga yang sama, tetapi diluar dugaan, Pak Ali membalas sms dan dilanjutkan dengan menelpon  dengan kata-kata yang tidak pantas untuk pelaku pariwisata yang cukup senior di Ora, alangkah kagetnya kami menerima perlakuan ini.

Dari pengalaman kurang nyaman di atas, saya jadi dapat belajar.  Untuk segala urusan termasuk rencana yang sudah di sepakati benar-benar matang dan detail, seringkali terkendala dengan jarak dan sulitnya komunikasi sehingga mengkondisikan seakan semua bisa di control dengan baik, namun ternyata penangkapan yang berbeda, seperti rencana kami adalah menyewa boat sehingga bisa di gunakan apa saja termasuk menjemput kami, ternyata bukan menyewa boat tetapi adalah harga paket Trip yang dibuat oleh Lisar Bahari, hal demikian harus di komunikasikan dari awal, buat kami, memang bukan masalah nominal uangnya, harga yang diberikan tetap kami bayarkan, tetapi kami harus menerima maki-maki dengan  ucapana kasar baik di SMS maupun di telephone, Sangat disayangkan sekali.

Saran saya, tanyakan semua dari awal dengan detail, karena dari beberapa blog yang kami baca, ada yang punya pengalaman buruk mengenai harga dengan Pak Ali. Semoga pengalaman kami dapat menjadi pembelajaran bagi siapa saja yang melakukan traveling.



One response to “Ora Beach – 2”

  1. […] sagu disesuaikan dengan waktu layak ambil”. Saya langsung ingat perjalanan saya kemarin ketika menyusuri sungai Malawai kemarin siang, saya melihat ada banyak tumbuh pohon sagu tumbuh liar di sepanjang alur sungai. Saya […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *