Ora Beach – 1

Let's begin

Waktu menunjukan pukul  sepuluh malam, akan tetapi kami masih harus menyebrang ke Ora,  hanya  dengan menggunakan perahu kecil  ber kapasitas  lima orang dan hanya mengandalkan sinar temaram dari lampu tempel  perahu. Ini adalah pengalaman baru bagi saya, menyebrangi lautan di malam hari. Dalam kegelapan, samar-samar saya melihat deretan tebing tinggi berjajar bagai pagar mengelilingi lautan. Ribuan bintang bintang  berserakan di langit malam. Untung nya laut Ora sangat tenang, hanya sesekali ombak menggoda  laju perahu yang saya tumpangi. Tidak ada yang bersuara, seakan semua penumpang ingin meyimpan semua kenangan malam ini dengan rapih, yang terdengar  hanya deru mesin perahu memecah ombak. Akhirnya perjalanan panjang hari  ini akan segera berakhir. Melihat  Kerlip sinar lampu di seberang pulau membuat hati  tentram, menandakan keberadaan Ora Resort, tujuan dari perjalanan ini.

Tulehu

Rasa lelah sudah mulai saya rasakan. Kalau dihitung-hitung perjalanan saya hari ini, mulai dari keluar rumah sampai dengan tiba di Ora, sudah menghabiskan waktu 17 jam lama nya. Melalui rute yang sangat panjang, terbang dari Bandara Soekarno Hatta selama tiga jam, tiba di Bandara Pattimura, Ambon, Provinsi Maluku, diteruskan menuju pelabuhan kapal di Tulehu selama 1 jam lamanya. Dari Pelabuhan Tulehu menyebrang ke Pelabuhan Amahai di Kota Masohi, pulau Seram, dengan waktu tempuh 2 jam menggunakan kapal cepat Cantika Torpedo. Kemudian diteruskan dengan perjalanan darat selama 2 jam lagi menuju Desa Sawai, baru terakhir menyebrang dari desa Sawai menuju Ora.

Mengintip mobil Tulehu

pedagang Tulehu

Tidak saya sangka, senyuman yang dimiliki oleh laki-laki sangar berkulit hitam legam dan rabut kriting ini menghangatkan hati, meruntuhkan dinding prasangka saya yang menyatakan kalau orang Ambon itu galak-galak. Sapa ramah “Selamat datang di kota Ambon” saya terima dari pemilik senyuman tadi ketika saya sedang mengamati suasana sore di Pelabuhan Tulehu, Ambon, tidak ada kesan pelabuhan yang biasanya crowded , kotor, kumuh dan tatapan jahil laki-laki iseng. Saya menikmati suasana sore di pelabuhan Tulehu, sambil menunggu Kapal cantika Torpedo yang akan membawa kami ke Pulau Seram. Laut biru yang bisa dibilang bersih untuk sebuah pelabuhan penyebarangan, langit cerah, para penjaja makanan yang berkeliling menjajakan dagangan nya, pisang goreng sambal colo, kenari tumbuk, buah manggis, roti, dan minuman segar. Celoteh riang dan tawa para penumpang yang ikut menunggu kapal, dan tentu saja senyum hangat dan sapaan ramah yang saya terima tadi. Suatu sore di pelabuhan kecil di ujung pulau Ambon.

pedagang pisang tulehu

kapal cantika interior

Dalam trip ke Indonesia timur ini, saya baru merasakan dengan nyata kalau kita memang tinggal di Negara kepulauan. Karena selama 9 hari saya berada di propinsi Maluku, menyambangi tiga pulau, yaitu Ambon, Seram dan Saparua, ada banyak kapal penyebrangan dan speed boat yang kami gunakan. Mulai dari Penyebrangan dari Ambon ke Seram, Seram ke Ambon, lalu Ambon ke Saparua dan Saparua kembali ke Ambon. Belum lagi speed boat yang kami sewa untuk hoping Island ke pulau-pulau kecil. Betapa saya menyadari bagaimana penting nya transportasi laut di Propinsi kepulauan seperti Maluku ini.

Selama di Ora kami manginap di Ora Beach Resort, sebuah resort yang menawarkan keindahan pantai Ora sebagai sajian utama nya. Kami menginap selama 4 hari 3 malam. Mengambil paket liburan yang ditawarkan oleh Ora Resort. Jadi mulai dari Penjemputan di Badara Pattimura Ambon sampai dengan pengantaran kembali pulang, semua sudah dalam paket yang kami ambil, termasuk biaya makan tiga kali sehari dan coffee dan snack selama berada di resort.

kapal cantika

Setelah menyebrang dari desa Sawai, dengan jarak tempuh 15 menit, akhir nya kami sampai juga di dermaga Ora Beach Resort. Dua orang petugas resort sudah menyambut kami di ujung dermaga dan langsung membantu mengangkat ransel-ransel yang kami bawa. Pada Trip kali ini, saya dan Ichil bersama dengan delapan orang teman-teman kami, tapi mereka semua tidak menginap di Ora Resort, melainkan disebuah cottage di desa Sawai, jadi kami berpisah di Masohi, hanya 1 orang teman yang gabung bersama Saya dan Ichil di Ora Resort.

Karena kami datang nya sudah malam, tidak ada pemandangan indah yang menyambut kami, tertutup gelap nya malam. Tamu resort pun sudah sepi, hanya ada berapa orang tamu yang masih terlihat di ruang makan resort, sebuah bangunan semi terbuka yang dibangun di atas laut. Setelah urusan administrasi resort selesai, kami langsung diantar ke kamar di atas laut untuk istirahat. Ternyata, walaupun sudah cukup malam, kami tetap disiapkan makan malam. Sebenar nya tadi  waktu di kota Masohi kami sudah makan, tapi perjalanan selama dua setengah jam dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok dan lima kilo meter pada akhir perjalanan, jalan aspal berubah menjadi jalan tanah yang berlubang-lubang seperti trek off road, sudah membuat perut kami lapar kembali, tawaran makan malam dari Ora resort tentu saja tidak kami sia-sia kan.

Malam Ora

Ora resort memiliki dua tipe kamar/bungalow, yaitu kamar darat dan kamar laut. Kamar laut lebih mahal harganya dibanding kamar laut. Disebut kamar laut, karena kamar berbentuk rumah panggung ini dibangun  di atas laut. Selama tiga malam di Ora resort kami memilih menginap di tipe kamar laut ini. Menurut kami pemandangan dari kamar laut lebih menarik. Dari kamar laut kita bisa langsung memandang ke luatan lepas berpagar tebing-tebing batu yang menyambung dengan pepohonan lebat. Sebagian besar materi pada bangunan terbuat dari papan sehingga dari sela-sela papan di lantai kita bisa mengintip ikan warna-warni berenang berkejar-kejaran.

Ora eco resort

Bagian favorite kami di bungalow atas laut ini adalah bagian beranda nya. Pusat segala aktivitas kami selama di Ora kami disini, mulai dari duduk santai di kursi malas, memancing ikan dan cumi di malam hari, membaca buku, atau sekedar duduk memandang ikan yang wara-wiri  diantara terumbu karang. Seru nya lagi, kemarin Ichil bawa seperangkat alat masak Trangia ke Ora, sengaja bawa trangia supaya bisa masak air panas untuk nyeduh kopi favorite kami tanpa harus bersusah payah minta air panas ke pihak resort. Sensasi nya luar biasa loh, menikmati secangkir kopi dengan pemandangan laut Ora yang memikat.

Beranda

Malam semakin larut, masing-masing kami sudah selesai membersihkan diri. Kasur empuk sudah menanti. Tapi kami ber tiga masih menyempatkan diri bersantai sejenak di beranda. Menikmati sejuk nya hembusan angin laut, bintang-bintang dan suara debur ombak yang pecah menghantam batu karang. Malam ini semua masih menjadi misteri, hanya kegelapan di depan mata. Rasanya, tidak sabar menunggu datang nya pagi…..

Febi amahi



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *