Perkampungan Suku Baduy

Baduy, sebuah pengalaman berkenalan dengan hakikat dasar kehidupan pada bentuk kesederhanan dan keselaran dengan alam…

Cerita ini berawal ketika kami  mendapat tawaran dari sahabat kami Evie, untuk melakukan hiking ke hutan di sekitar perkampungan Baduy, karena hiking nya dilakukan seharian penuh maka kami harus bermalam di perkampungan Baduy. Tentu saja tawaran ini tidak kami sia-siakan, karena memang sudah lama kami berencana ingin melihat perkampungan suku Baduy .

Sebenarnya kami berkeinginan untuk bisa  masuk sampai ke perkampungan baduy dalam nya, tapi karena dalam team hiking kali ini evie juga mengajak teman-temanya yang berkebangsaan asing sehingga tidak memungkinkan buat kami untuk bisa masuk kedalam perkampungan baduy dalam. Masyarakat baduy dalam masih sangat berpegang teguh pikukuh (aturan adat), untuk tidak memperbolehkan warga negara asing untuk masuk ke wilayah perkampungan nya..

Perjalanan ini dimulai dengan mengendarai mobil melalui tol dari Jakarta-merak, keluar di tol serang timur menuju rangkasbitung, dengan kondisi tol yang sangat tidak bersahabat kami merasakan panjangnya perjalanan ini, hingga akhirnya iring-iringan mobil kami memasuki desa Ciboleger ditandai dengan adanya patung selamat datang, sebuah pemadangan kembali menggelitik dikepala ketika saya masih menemukan satu mini market waralaba mentereng dengan warna merah yang dominan bersanding dan bersaing dengan warung-warung tradisional, woow luar biasa pengikisan ekonomi masyarakat kecil hingga titik terluar sebuah suku yang kebudayaan akan harmonisasi alam dan kesederhanaan hidup masih terjaga dengan baik..

Setelah sampai, kami langsung menuju rumah jaro (kepala desa) untuk mengurus ijin dan istirahat makan siang, ada cerita menarik sepanjang kami makan siang, dimana jaro menunjukan sebuah foto yang rapi terbingkai di balai desanya, beliau bercerita kalau itu adalah photo sarjana pertama dari baduy luar, terbersit rasa bangga yang membuncah dalam ceritanya.

berjalan menuju desa baduy

Jalan menuju desa badui

Febee

Setelah makan siang, kami mulai melanjutakan perjalan, rencana nya kami akan menginap di desa Balingbing dan untuk sampai kesana dibutuhkan waktu 45 menit berjalan kaki dengan menyusuri jalanan setapak yang hampir selalu menanjak atau turunan yang cukup curam,  tapi tantangan tersebut terasa ringan karena suguhan pemadangan yang alami disepanjang jalan masuk ke wilayah perkambungan baduy.

jalan setapak

sampai di desa

Setiba nya kami di desa Balingbing kami ber istirahat sejenak sambil merapihkan barang-barang bawaan kami. Acara selanjutnya adalah hiking mengelilingi perkampungan Baduy. Karena rombongan kami tidak bisa memasuki perkampungan baduy dalam, maka Evie mengganti nya dengan hiking, untuk hari pertama ini kami hanya berjalan-jalan disekitar perkampungan baduy luar, menikmati suasana perkampungan, baru ke esokan hari nya kami akan diajak hiking menyusuri bukit, hutan dan kebun yang mengelilingi area suku baduy.

Perkampungan Baduy

Setelah cukup beristirahat, kami mulai berjalan menyusuri perkampungan Baduy, yang dipandu oleh kang ijom, salah seorang suku Baduy luar. Sepanjang jalan kang ijom memberi penjelasan banyak hal kepada kami tentang suku Baduy. kang Ijom bercerita mengenai hal-hal yang dianggap tabu oleh mereka, misalnya, suku baduy dilarang untuk bersekolah, tidak boleh menggunakan barang-barang produk modern seperti tv,radio dan handphone,tidak boleh memelihara binatang ternak yg berkaki empat,tidak di ijinkan menaiki kendaraan bila berpergian jauh dan alasan mengapa mereka hanya diperbolehkan memakai baju warna putih dan hitam saja. Dan tidak ketinggalan Kang Ijom menjelaskan mengenai adat istiadat dan norma-norma kehidupan suku Baduy.

jejeran rumah badui

Mendengar penjelasan kang Ijom, bagi saya merupakan pembelajaran tentang hakikat kesederhanaan hidup, hidup yang selaras dengan alam, akan tetapi dibalik keluguan dan kesederhanaan nya, saya juga merasa orang Baduy adalah orang-orang yang konsisten menjalankan norma-norma kehidupan dan nilai-nilai adat yang membuat hidup mereka sehat, tentram, damai dan sejahtera

Orang Baduy tinggal dalam suasan perkampungan yang hijau, asri dan rindang. Rumah-rumah milik mereka ditata rapih, tersembunyi di bawah dan dibalik pohon-pohon besar yang rindang yang sengaja dibiarkan tumbuh liar seperti apa adanya, mengelilingi wilayah perkampungan. Di sekeliling kampung ada banyak mata air dan untuk menuju dari satu desa ke desa lain nya terkadang kita harus menyebrangi anak sungai dengan jembatan-jembatan kayu yang terbuat dari akar pohon dan bambu.

jembatan bambu 2

melewati jembatan akar

Memasuki perkampungan baduy , tampak jejeran-jejeran rumah beratap daun rumbia yang sangat rapi yang dibelah oleh jalan yang tak terlampau lebar. Rumah baduy berbentuk rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu, setiap rumah mempunyai bentuk yang sama, pada bagian muka terdapat balai-balai, menurut kang ijom, balai-balai tersebut adalah tempat dimana mereka menerima tamu dan tempat berinteraksi antar sesama warga, mengasyikan sekali melihat pemandangan ini. Perlu diketahui Rumah Baduy hanya terdiri dari  bagian  depan, tengah dan belakang (dapur).

dari bale bale

jejeran atap

Sayang sekali,  hujan tiba-tiba turun, kami yang sedang berada ditengah perjalanan menyusuri kebun harus bergegas masuk kampung, mencari rumah untuk berteduh, untungnya kami dengan cepat dapat  berteduh. Kami masuk kedalam salah satu perkampungan Baduy, suasana kampung ini tampak sepi dan kami melihat seorang  anak perempuan yang sedang menenun kain di balai-balai. Menurut penjelasan kang Ijom “Kalau siang, orang Baduy biasanya jarang diam di rumah, tapi berada di kebun”,itu sebabnya kampung ini terasa sepi.

anak baduy

berjalan di hujan

payung daun pisang

Lorong perkampungan

Tidak banyak yang bisa kami lakukan disini, kecuali duduk di balai-balai menunggu hujan reda, untung nya hujan segera berhenti dan kami bisa melanjutkan perjalanan pulang, kembali ke kampung Balingbing…

sungai kampung baduy

Acara selanjutnya adalah mandi di sungai. Yup..sebenarnya dari tadi saya sudah tidak sabar membayangkan akan mandi di sungai, karena ini adalah pengalaman baru buat saya. Dengan ber-kemben kain sarung, saya, ichil dan evie turun ke sungai, kami langsung bergabung dengan perempuan-perempuan Baduy lain nya yang sedang mandi beramai-ramai di tepi sungai sore itu. Karena  ini pengalaman pertama saya mandi di sungai, saya jadi sedikit kikuk dengan cara mandi seperti ini. Tapi segarnya air sungai membuat saya ingin berlama-lama berada disini.

Bersambung ke cerita masak di kampung Baduy



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *