Desa Tenganan

Liburan ke Bali kali ini sengaja saya dan Chile menyusuri daerah Bali Timur. Dengan bermodal kan mobil sewaan tanpa supir dan sebuah peta bali, kami memulai petualangan Bali Timur dengan mengunjungi sebuah desa kuno bernama desa Tenganan di wilayah kabupaten Karangasem.

Untuk tiba di desa Tenganan ini kami musti menempuh perjalanan sekitar 70 km kearah timur dari kota Denpasar. Tapi jangan kuatir dengan perjalanan panjang itu, sepanjang  jalan menuju desa Tenganan kita akan di suguhi dengan pemandangan elok dan eksotik ciri khas pedesaan di Bali pada umumnya. Setelah memasuki kabupaten Karangasem kami mengarahkan mobil ke candi dasa, lalu  belok menuju ke utara sekitar 3 km. Setelah melewati desa Pesedahan baru kami melihat papan ucapan selamat datang di desa Tenganan. Tidak terlalu sulit menemukan desa kuno ini, karena ada banyak petunjuk jalan yang kami temui.

Rumah_ desa1

Desa Tenganan adalah salah satu desa bali asli yang masih menjaga budaya dan adat istiadat traditional bali yang dikenal sebagai Bali Age. Berbeda dengan umat hindu pada umum nya di Bali, masyarakat desa Tanganan memiliki kalender hari besar keagamaan yang mereka buat sendiri, keunikan lain nya dari desa ini adalah merupakan daerah satu-satu nya di bali sebagai penghasil kain Gringsing.

BatikNCraft

Setiba nya kami di Desa Tenganan kami disambut oleh pintu gerbang dan gapura desa, untuk bisa masuk ke lingkungan desa kita harus membeli tiket terlebih dahulu, harga sukarela untuk wistawan domestic dan bagi orang asing diharuskan membayar dengan harga tertentu. Desa Tenganan menyajikan panorama yang sangat indah dengan backdrop bukit yang cantik karena lokasi desa berada di sebuah lembah dan diapit oleh bukit, oleh sebab itu deretan rumah sepanjang desa dibuat seperti berundak-undak dengan tiga buah banjar di dalam nya. Deretan kurngan ayam dan asap dupa menambah kekentalan suasana desa.

suasana_desa

Seperti yang saya ceritakan diatas tadi, desa Tenganan adalah penghasil kain Gringsing, kain gringsing ini sendiri terbilang unik, otentik dan sekarang sudah langka karena untuk menenun kain ini benang yang dipakai berasal dari kapas Bali asli yang bahan nya sudah sulit ditemui dan proses pembuatan nya juga terbilang rumit, harga sehelai kain Tenganan yang sudah langka bisa mencapai 25 juta rupiah. Saya sangat takjub dengan keindahan motif kain Gringsing buatan tenganan ini, selain motif nya yang unik warna-warna yang di gunakan juga sangat indah sebuah karya seni tingkat tinggi. Hampir setiap rumah menjual kerajinan kain ini, tapi selain itu masyarakat desa juga menjual kain-kain batik dengan motif  Bali atau motif Jawa, saya hanya mampu membeli beberapa potong kain batik saja semoga suatu hari saya bisa membeli kain Gringsing untuk menambah koleksi kain saya.

Kerajinan lain nya dari desa Tengangan adalah aneka cenderamata seperti tas, kotak perhiasan, asbak, alas makan yang terbuat dari daun lontar. Saya langsung teringat sebuah tas yang sama dengan tas yang saya taksir di sebuah toko cinderamata Warwick di kemang Jakarta, tapi tas made in  desa Tenganan ini dengan dengan kualitas dan keindahan barang yang sama kita cukup membayar separuh harga saja dari tas made in Warwick. Saran saya jika kita mengunjungi desa Tenganan alangkah baik nya jika kita membawa uang cash yang lebih karena karena selain system pembayaran harus cash, rasa nya rugi jika tidak membawa  karya seni indah itu pulang ke rumah. Dan tentu nya juga membantu perekonomian masyarakat desa Tenganan bukan ?

Tidak terasa satu jam sudah saya bercengkrama bersama desa yang indah ini. Waktu seperti diputar ke masa puluhan tahun lalu, tidak cukup waktu rasanya untuk menyelami kebudayaan Bali Aga dengan ke-beragaman budaya nya, kekentalan adat-istiadat, berbagai acara upacara  ke-agama an, semua nya menyadarkan saya betapa kaya nya negri yang bernama Indonesia ini, semoga semua kebudayaan itu akan terus terjaga keaslian nya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *