Pesona Tiga Gili : Cottage Matahari In

Selamat pagi…ini pagi pertama saya di Gili,

ketukan pintu Panjul petugas hotel, untuk menawarkan sarapan pagi membangunkan saya dari tidur, ternyata sudah pukul delapan pagi, wah selamat tinggal deh rencana mengintai indah nya sunrise pagi ini. Mungkin karena ini sudah hari ke empat liburan buat saya dan Ichil, jadi kami sudah terlalu letih untuk bangun pagi-pagi, berbeda dengan Yan dan Harry yang baru memuluai liburan mereka, cadangan energi mereka masih berlimpah, sehingga mereka bisa bangun pagi dan sukses menyaksikan matahari terbit.

banana pancake

Secangkir kopi hitam, pancake pisang dan roti bakar adalah menu sarapan yang disediakan oleh Matahari In buat kami. Matahari In adalah sebuah cottage sederhana dengan harga sewa kamar seratus ribu rupiah permalam dengan fasilitas fan dan sarapan pagi. Ada tujuh buah kamar yang disewakan, pada saat kami berada disana semua kamar terisi penuh oleh turis asing. Pengelolaan cottage di serahkan kepada Panjul yang bertugas sebagai manager operasional, marketing, kasir, koki, bagian kebersihan, penyewaan sepeda dan juga merangkap sebagai guide tour bagi turis yang menginap di Matahari In. Sambil di temani oleh Panjul kami menikmati sarapan pagi di teras kamar, Ichil langsung jatuh cinta dengan menu pancake pisang keju buatan Panjul, ternyata lelaki berkulit hitam berambut gimbal itu pintar masak

Tomato bread.

Tadi malam, sebelum kami kembali ke cottage, kami menyempatkan diri untuk membeli tiket Glass – bottomed boat trips pada loket-loket penjualan yang banyak terdapat di sekitar cottage, biaya trips sebesar 70 ribu rupiah per orang sudah termasuk penyewaan alat-alat snorkling.

Kira-kira pukul setengah sepuluh, dengan di temani Panjul kami berangkat menuju dermaga kayangan, lokasi dimana peserta bottomed boat trips harus berkumpul pada sepuluh pagi. Oh ya, sebelum berkumpul di dermaga, saya harus mengambil bekal makan siang ditempat kami makan semalam.

warung

Ada cerita menarik soal nasi bungkus ini, jadi semalam sewaktu kami sedang mencari tempat makan, kami melewati sebuah rumah makan sederhana yang sangat ramai, biasanya kalau ramai pengunjung pasti masakannya enak pikir saya. Waaah asumsi saya ternyata benar, warung makan yang di kelola oleh seorang ibu warga asli gili trawangan ini memang bisa di acungin jempol rasa masakan rumahnya dan segi hargapun warung sederhana ini mematok harga sangat bagus untuk wisatawan yang memiliki budget terbatas, karena itu saya langsung mendapat ide untuk memesan saja nasi bungkus sebagai bekal makan siang pada tour kami esok hari, karena menurut informasi yang di dapat, pada saat makan siang, kami sedang berada di gili air dan tidak ada makanan yang di rekomendasikan. Berbekal 4 bungkus nasi dan 4 botol aqua besar saya langsung meluncur ke dermaga kayangan dengan sepeda, bergabung dengan Ichil, Yan, Harry dan Panjul.

Matahari in

pintu masuk

 

 

Dalam kamar

 

pintu dalam

Bersambung…



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *