Marosok dalam sarung di pasar ternak Batu Sangkar

Beberapa kali saya mengunjungi Sumatera barat, selalu membuat saya takjub akan ke indahan alam minangkabau. Selain panorama alam nya yang mengoda, sumatera barat juga terkenal dengan wisata kuliner nya .Tapi sekarang saya tidak ingin bercerita tentang keindahan danau maninjau, cantik nya ngarai shianok atau enak nya sate mak syukur, saya akan bercerita wisata ke pasar ternak. Ya, agak aneh memang kedengarannya jauh-jauh ke padang kok yang diliat malah pasar ternak ? apa menarik nya ? pertanyaan itu juga yang terlintas di kepala saya waktu saya di ajak seorang teman mengunjungi pasar ini. Karena penasaran saya terima tawaran teman saya ini.

Pasar ternak yang saya datangi ini terletak di desa Cubadak kabupaten tanah datar Batu sangkar, kurang lebih dua jam perjalanan dari kota padang. Bau rumput sehabis hujan menyambut kedatangan saya di sebuah lapangan rumput luas yang di kelilingi oleh hamparan sawah hijau dan barisan pohon kelapa, di sanalah pasar ternak itu. Tidak tampak kios2 seperti layak nya pasar yg biasa saya kunjungi, memang pasar ternak ini bukan pasar permanen yang ada setiap hari tapi pasar yang ada hanya seminggu sekali,yaitu di hari kamis.

Mungkin karena hari kamis ini adalah hari pasar di kota batu sangkar. Jadi pada hari lainya lapangan ini di gunakan masyarakat untuk keperluan lainnya. Hari pasar adalah hari dimana para pedagang dari kota2 di sekitar kota batu sangkar membawa dangan nya ke pasar, tradisi ini memang ada di sumatra barat ini, setiap kota mempunya hari pasar nya sendiri2. Hewan yang di jual di pasar ternak ini adalah sapi,kerbau,kambing,domba dan anjing berburu. Tapi hewan yang paling banyak di jual adalah sapi. Mungkin karena sebagian besar pembeli nya adalah tukang potong di pasar, dan di padang jarang sekali di temukan ada daging kambing atau kerbau di jual di pasar, karena itu kali ya jarang ada sate kambing di padang.

Hari masih pagi ketika saya tiba di sana, truk2 yang membawa hewan ternak masih berdatangan, biasa nya hewan2 yang menggunakan truk ini didatangkan dari kota2 sekitar kota batu sangkar, seperti padang panjang, payakubuh,sawah lunto dan bukit tinggi. Ada juga yang dari kota Batu sangkar nya sendiri, kalau yang ini pedagang ternak cukup mengikat hewan ternak nya dengan tali dan menarik nya beberapa ekor sekaligus, berjalan menyusur jalan atau sawah menuju kepasar ternak.

Tempat pertama yang saya datangi adalah tempat penjual anjing, karena saya sangat suka dengan anjing. Jangan membayangkan anjing yang di jual di sini jenis anjing yang lucu2 seperti Dachshund,pom,cow-Cow atau maltese. Anjing yang di jual di sini adalah jenis anjing berburu. Di Sumatera barat,hingga sekarang tradisi berburu babi hutan dengan menggunakan anjing masih di lakukan sebagai olahraga atau untuk refreshing. Anjing2 itu terlihat macho dengan tatapan tajam nya dan lidah yang menjulur keluar menunggu para pembeli memilih diri nya.Harga seekor anjing berburu yang bagus bisa jutaan rupiah.

Cukup lama saya di sini, asyik bermain dan memperhatikan tingkah laku anjing2 itu, meski gak semua anjing bisa di sentuh.
Setelah puas, saya pindah ke tempat penjual kerbau,sapi dan kambing. Di sini saya baru tau bagaimana cara memilih hewan ternak yang akan di beli. Hewan yang sudah di pilih harus di periksa terlebih dahulu layak nya dokter yang sedang memeriksa pasien nya.
Mulai dari mata yang di buka lebar2, lubang telinga, bagian mulut,lidah,gigi,gusi semua nya tanpa terkecuali.Menurut saya cara mereka memeriksa tidak berperikehewanan, berasa di obok2 gitu lho.

Ternyata ada yang unik dari cara bertransaksidi pasar ternak ini. Khusus nya di bagian jual beli sapi, cara pembeli dan penjual tawar menawar hewan tidak seperti biasa nya,jadi setelah calon pembeli menemukan hewan yang di inginkan maka mulailah di lakukan tawar-menawar dengan cara kedua belah pihak memasukkan tangan mereka kedalam sarung yang di bawa oleh penjual ternak. Maka jari2 tangan mereka lah yang berbicara membentuk kode-kode tertentu untuk menentukan harga yang telah mereka sepakati.
Tidak tau sejak kapan cara cara ini di pakai dan kenapa harus di dalam sarung ? Istilah nya buat orang padangmarosok dalam saruang.karena penasaran saya minta di ajarin juga oleh kakek penjual ternak yang baik hati untuk mengajarkan saya marosok dalam saruang itu.

Tak terasa waktu terus berjalan, perut sudah mulai bernyanyi. Saya melangkah keluar arena untuk mecari makan. Di sekitar pasar banyak terdapat pondok2 kagetan yang menjual beraneka macam makanan. Ada warung nasi yang penyajian nya ala nasi kapau senen, yang dengan kejam nya memamerkan gulai tunjang, rendang, gulai usus, dendeng batokok, bebek hijau dan teman2 nya, membuat perut saya makin bernyanyi kencang. Ada juga penjual lontong sayur, pical padang dan gak ketinggalan bubur kampiun. Aroma menggoda yg berasal dari asap penjual sate padang membuat saya gak kuat lagi untuk berkeliling. Akhir nya saya memutuskan untuk masuk ke salah satu pondok nasi kapau memesan menu lengkap dengan gulai usus, di temani segelas tea hangat. Makan dengan pemandangan sawah hijau dan dari jauh tampak pasar kesibukan pasar, gak sengaja saya mencuri dengar obrolan 2 orang bapak-bapak yang dengan bangga nya bercerita bisa menjual habis hewan dagangan nya. Membuat hati menjadi hangat. Menu saya siang ini, Lamaaaa’ ¬†Banaaaaaa *enak beneer*

Berada di pasar ini saya merasa seperti melompat ke jaman beberapa tahun silam. Mungkin karena yang datang ke sini sebagian besar pria2 yang menggunakan sarung yang di selempangkan di leher atau di lilit kan di leher gakketinggalan peci hitam penutup kepala seperti yang biasa di pakai orang2 jaman dahulu. Saya juga banyak melihat kelompok kakek2 yang sedang asyik bercengkarama sambil minum kopi dan mengisap rokok kretek, tampak bahagia sekali. Bisa jadi pasar ini menjadi tempat ketemuan rutin mereka, entah apa yang sendang asyik mereka bicarakan, kenangan masa muda mungkin ?

Hari makin siang, sebagian hewan laku terjual, truk2 kembali terisi membawa hewan ke pemilik baru. Kaki sudah terasa capek, saat nya pulang. Sebelum pulang saya sempat mampir ke pondok pandai besi, melihat proses pembuatan pisau, golok, cangkul. Baru sekali ini saya melihat bagaimana proses pembuatanya, mulai dari pemilihan besi sampai besi di tempa di atas bara api yang menyala terkahir di bentuk dengan cara memukul besi panas tersebut dan membentuk nya seperrti yang di inginkan. Besi yang sedang di tempa di bara api terlihat sangat cantik sekali. Saking asyik nya saya sampai gak sadar kalau di luar turun hujan, sambil menunggu hujan reda saya mampir kewarung. Pisang goreng hangatpakai ketan dengan taburan kelapa dan gula di atas nya gak mungkin saya tolak. Ternyata bukan saya aja turis yang tertarik datang ke sini, saya liat banyak wisatawan yang sedang asyik foto-foto atau sekedar mengamati seperti yang saya lakukan

Setelah apa yang saya lihat dan alami hari ini membuat saya makin percaya bahwa ada banyak obyek2 wisata lain yang bisa kita kunjungi dan nikmati selain obyek wisata seperti pemandangan alam atau bangunan bersejarah saja, ada banyak kebudayaan dan tradisi menarik yang di miliki Negeri yang kita cintai ini walau mungkin belum dapat digarap secara maksimal.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *