Membuat Papeda

Ada kisah menarik yang dicertakan Mama Echa  kepada saya ketika kami sedang membuat Papeda. Papeda adalah masakan khas dari Maluku, dan ketka kami menginap di Ora Resort, kami berkesempatan belajar membuat papeda kepada Mama Echa , chef dari Ora Resort. Kami memaggilnya mama karena memang sebutan untuk Ibu di Maluku adalah Mama. Mama Echa  bercerita,

Pepeda Bulat

 

“Kami di Maluku ini, punya system adat yang namanya adat Sasi. Adat sasi adalah budaya turun temurun yang diwariskan dari nenek moyang kami sejak jaman dahulu yang tujuan nya adalah untuk melestarikan alam”. Untuk membuat Papeda, sagu yang digunakan adalah sagu yang sudah diolah menjadi tepung, biasanya dijual dalam bentuk bulatan sebesar bola tenis, kemudian sagu yang sudah menjadi tepung tersebut dilarutkan dalam baskom dengan sedikit air dingin.

Mencairkan sagu

Sambil menambahkan air dingin ke dalam baskom yang sudah berisi tepung sagu, Mama Echa  melanjutkan kisah nya “Jadi jaman dulu kan para nelayan itu kalau berlayar untuk mencari ikan bisa lama sekali baru kembali ke rumah, oleh karena itu, agar hasil bumi yang sudah capek-capek ditanam tidak dicuri orang harus  di Sasi dulu. Dengan cara semua hasil bumi yang ditinggalkan, disiram atau diperciki dengan SOPI (arak Molu) yang sudah ditambah dengan jampi-jampi, jadi kalau ada orang yang punya niat jahat untuk mencuri akan kena tuah, ancaman nya bahkan sampai nyawa melayang”. Sasi sendiri kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia arti nya “Segel”.


Sagu siap diolah

Setelah baskom yang berisi tepung sagu diisi dengan air dingin, lalu Mama Echa  menyuruh saya mengaduk tepung sagu tersebut. Mama Echa  melanjutkan cerita nya, “tapi dijaman sekarang, bagi desa yang mayoritas nya beragama kristen, adat sasi ini udah diambil alih sama gereja. Gereja membuat system yang benar untuk panen di sebuah desa. Contoh nya seperti pohon sagu ini, walau pohon sagu banyak tumbuh di bumi Maluku, untuk mengambilnya tidak boleh sembarangan. Dengan menggunakan adat  Sasi, hanya penduduk desa dimana tumbuhuan sagu itu saja yang boleh mengambil nya dan tentu saja waktu pengambilan sagu disesuaikan dengan waktu layak ambil”. Saya langsung ingat perjalanan saya ketika menyusuri sungai Malawai kemarin siang, saya melihat ada banyak pohon sagu tumbuh liar di sepanjang alur sungai. Saya sempat berpikir, siapa aja yang boleh mengambil sagu nya ini ? apakah boleh sembarangan orang mengambil nya ? akhirnya pertanyaan saya terjawab sudah oleh cerita Mama Echa  tentang adat Sasi.

Step3

Ternyata air dalam baskom sagu masih kurang, jadi Mama Echa  menambah lagi sedikit air. Saya yang masih penasaran dengan cerita adat Sasi, kemudian bertanya kepada Mama Echa  “Apa aja Mama yang bisa di Sasi ? apa cuman pohon sagu aja ?”. Sambil mengira-ngira apakah air dalam baskom sudah cukup takaran nya, Mama Echa  menjawab pertanyaan saya “ Tidak Mbak, semua bisa di Sasi, pohon kelapa, pohon mangga, pohon manggis, semua nya. Adat sasi juga berlaku untuk perikanan di darat atau di laut”.

 

Step2

Saya berpikir, alangkah bagus nya adat Sasi ini, mungkin ini rahasia dari manis dan legit nya buah-buahan yang saya coba selama di Maluku. Saya beruntung sekali, ternyata di Ambon sedang musim buah-buahan, jadilah selama liburan liburan kemarin saya berkesempatan mecoba buah manggis, gandaria, alpukat, langsat hingga buah durian. Semua nya manis, bukan manis dipaksa tapi karena manis matang pohon. Berbeda dengan buah-buahan di Jakarta yang kebanyakan matang karena hasil peram dalam kardus.

 

Step1

Ketika saya utarakan pendapat saya mengenai adat Sasi ini ke Mama Echa , Mama Echa  menganggapi nya dengan tersenyum sambil berkata “Adat Sasi ini ada baik dan ada buruk nya juga, kalau yang baik nya, sudah tau kan, kalau yang buruk nya, ada di beberapa tempat, gara-gara menerapkan adat Sasi ini malah bikin bingung masyarakat nya karena masalah pembagian hasil panen nya”. Sambil menarik nafas yang panjang Mama Echa  berujar “Mama berharap, semoga adat sasi ini tidak punah, agar keseimbangan alam di bumi Maluku akan tetap terjaga kelestarian nya”. Saya ikut mengangguk mengamini harapan Mama Echa  tersebut.

Mama Echa dan Papeda 1

Step4

Lalu Mama Echa  meminta saya untuk konsentrasi dengan papeda yang mau saya buat. Karena proses nya semakin sulit. Tepung sagu yang sudah tercampur air tadi diaduk menggunakan sendok kayu, lalu baru disiram dengan air panas mendidih sambil terus diaduk. Adonan yang tadinya terasa ringan tiba-tiba menjadi berat setalah disiram air panas, dalam hitungan detik adonan dari tepung tadi berubah menjadi adonan bubur kanji yang lengket, dan saya tidak boleh berhenti mengaduk, nanti adonan akan menggumpal. Untung saya punya lengan yang kuat hasil exercise di Jakarta, jadi kuat mengaduk adonan papeda yang terasa makin berat.

Papeda

Papeda dan bambu

Saya dan Ichil beruntung sekali bisa belajar membuat papeda di daerah asal nya dan langsung dari “guru” yang tepat, belajar membuat papeda ini sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Berawal dari sapaan ramah Mama Echa ketika sedang menyiapkan makan malam untuk kami di hari kedua kami menginap di Ora Resort, lalu mama Echa bertanya “mau dimasakin apa besok” ? pertanyaan sederhana itu awal dari persahabatan kami. Diskusi menganai kuliner Maluku berlangsung hangat, Mama Echa tidak pelit ilmu, semua dijelaskan kepada kami mulai dari resep ikan kuah kuning, nasi kalapa, sayur jangan-jangan, sampai dengan ide untuk belajar membuat Papeda ini. Mama Echa dengan sabar meladeni wajah-wajah kami yang haus akan ilmu kuliner Maluku. Satu lagi yang membahagiakan saya dan Ichil adalah, selama sisa kami kami di Ora Resort, mama Echa secara bergantian memasaki kami menu-menu khas Maluku tersebut.

Belajar serius

menuangkan papeda

Akhirnya Papeda yang saya buat selesai sudah. Sendok kayu yang dipakai untuk mengaduk adonan sagu diganti dengan sendok yang terbuat dari bamboo yang dibelah pada tengah nya, fungsi nya untuk mengambil adonan sagu yang lengket. Biasa nya papeda ini dimakan dengan cara disiram ikan kuah kuning.

Papeda siap di santap

Karena saya tidak bisa menyendok papeda nya dari baskom ke piring makan, jadinya mama Echa membantu saya. Butuh ilmu tingkat tinggi untuk menyendok adonan sagu yang lengket itu ke dalam piring, itulah fungsi dari si kayu bambu tadi.

penginapan

Selesai sudah pelajaran membuat Papeda hari ini, Sambil memandang indah nya luat ora, kami menikmati  papeda yang saya buat dengan ikan kuah asam yang masih hangat. Sehangat ketulusan hati mama Echa dan sehangat pertemanan kami. Terima Kasih Mama Echa.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *