Masak di Suryakencana

Begini lah jadi nya kalau tiga orang yang doyan masak naik gunung bersama, hasil nya…pesta pora di ketinggian 2.750 m. dpl Alun-alun surya kencana Gunung Gede, Cibodas Jawa Barat. Masing-masing dari kami memasak makanan andalan kami masing-masing, saya masak sop sosis, Emon memasak nasi liwet lengkap dengan sambal terasi dan Ichil membuat mashed potatoes dan sosis goreng untuk menu sarapan.

Mulai mendaki

Pendakian kami ke gunung gede kali ini merupakan trekking kedua saya dan Ichil ke gunung Gede. Tidak ada tujuan khusus, selain ingin menghilang kan rasa jenuh karena padat nya kerjaan di kantor beberapa bulan belakangan ini. Untuk porter merangkap guide, kami masih mempercayakan nya kepada Emon. Sejak trekking pertama kami bersama Emon ( bisa baca disini : http://ioflife.com/food/?p=1207 ) , kami langsung cocok dan Emon sudah menjadi sahabat gunung kami, sudah beberapa pendakian kami lakukan bersama. Emon yang baik hati, rajin, kuat, dan pengetahuannya yang luas tentang jungle survival menjadikan saya dan Ichil merasa aman jika naik gunung ditemani Emon, perlu diketahun Emon adalah salah satu pengajar Kartini Jungle Survival di yayasan Survival Indonesia (YSI) dan satu lagi kehebatan Emon adalah, Emon Jago masak, sebuah paket lengkap dari Emon, betapa beruntung nya kami kenal dengan Emon.

Persiapan

Seperti yang pernah saya bilang, salah satu keseruan naik gunung adalah mempersiapkan daftar menu masakan selama pendakian. Asyik rasanya memikirkan menu-menu yang cocok untuk dimakan di atas gunung, bahan-bahan yang harus dibawa, cara packing bahan-bahan masakan nya, sampai dengan peralatan masak apa saja yang harus dibawa ke atas gunung.

Berikut daftar menu yang saya buat untuk dua hari kami di gunug Gede :

Hari I :

Makan siang : Nasi bungkus beli warung

Makan malam : Nasi Liwet + sambal terasi + ikan asin + sop sosis

Hari II :

Makan Pagi : Mashed potatoes + Sosis

Makan Siang : Sop sayuran + Mie Goreng

Selain jago masak, ternyata ilmu belanja Emon juga bisa diandalkan, jadi saya bisa mempercayai Emon untuk belanja dan packing semua kebutuhan makanan selama dua hari pendakian, hal ini cukup meringankan saya,mengingat pekerjaan kantor yang cukup menyita waktu. Saya dan Ichil hanya membawa beberapa bahan yang tidak bisa didapatkan emon di pasar traditional Cibodas, seperti sosis, tepung kentang, tahu jepang dan beberapa bumbu.

Untuk peralatan memasak, berhubung memang hobi kami memasak, jadi disetiap pendakian gunung, sedikit demi sedikit kami mencicil koleksi peralatan memasak untuk di gunung. Sebagai andalannya, kami menggunakan seperangkat peralatan masak Trangia, selain itu kami juga mengoleksi talenan pelastik, pisau lipat victorinox, wadah telur, ulekan kayu, beberapa buah sutil dan peralatan lain nya seperti seperangkat piring, gelas, mangkok dan sendok garpu.

Sedangkan Emon, selain membawa peralatan masak Trangia nya, emon juga membawa kukusan kecil dan beberapa buah rantang. Seperti nya Emon sudah siap sekali dengan peralatan masak nya untuk membuat nasi liwet andalan nya. Hasil nya, walau kami hanya dua hari di gunung, tapi bawaan nya Emon tetap banyak seperti lima hari pendakian.

Hari Pertama

Pagi ini cuaca sangat cerah, dari kebun raya Cibodas saya melihat gunung gede berdiri dengan gagah nya. Sesuai jadwal, kami bertiga akan mulai mendaki pukul 9 pagi melalui jalur pendakian gunung putri. Oleh sebab itu, setelah sarapan seadanya di warung pinggir jalan, dengan menggunakan angkot sewaan, kami bergegas menuju desa Gunung Putri. Karena masih pagi, jalanan masih lancar, dalam waktu setengah jam kami sudah sampai dan langsung menuju sebuah warung makan untuk membeli bekal makan siang. Memang untuk makan siang hari pertama ini, kami tidak masak tapi cukup membeli nasi bungkus, hal ini disebabkan karena kami tidak punya cukup waktu untuk masak. Biasanya istirahat makan siang hanya satu jam saja, mengingat kami harus mengejar waktu, untuk segera tiba di Alun-alun surya kencana, tempat kami menginap malam ini.

Track gunung putri

Hari ini adalah minggu pertama jalur pendakian gunung Gede dibuka kembali, setelah ditutup beberapa bulan dalam rangka konserfasi alam. Oleh sebab itu, selama pendakian kami tidak menemukan banyak sampah-sampah pelastik seperti biasanya. Gunung Gede masih bersih dari sampah. Tepat jam 9 pagi, setelah mengurus administrasi pendaftaran di posko kedatangan jalur Gunung Putri, kami memulai pendakian. Awal, nya kami masih jalan ber iringan bertiga. Tetapi, setelah satu jam berjalan, saya dan Ichil meninggalkan Emon jauh di belakang. Kami cukup maklum Emon bisa tertinggal dibelakang, mengingat bawaan nya yang cukup berat, tidak seperti kami yang hanya membawa sedikit barang dalam ransel kami, jadi kami punya tenaga lebih untuk berjalan cepat.

Tapi pada pendakian gunung Gede kali ini, diluar dugaan, hanya dalam waktu empat jam kami sudah sampai di Alun-alun Surya Kencana. Ini memecahkan rekor kami sendiri di pendakian 2 tahun yang lalu, yaitu delapan jam perjalanan. Kurang lebih jam 1 siang kami sudah sampai di Alun-alun surya Kencana. Berhubung bekal makan siang dibawa sama Emon yang masih dibelakang kami, jadi kami harus menunggu Emon selama satu jam, baru setelah Emon datang kami bisa menikmati makan siang kami diantara rumpun edelweiss Alun-alun surya kencana.

Emon dan ransel nya

 

Pesta Pora

Setelah makan siang, kami segera bergegas, perubahan cuaca yang tidak menentu di alun-alun Surya Kencana, bisa saja dalam sekejab bisa berubah dari panas terik menjadi kabut tebal membuat kami ingin segera mencari tempat nyaman untuk mendirikan tenda. Untung nya Emon dengan mudah menemukan lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda kami, yaitu : tanah yang datar, tidak jauh dari pepohonan agar terlindung dari badai dan tentu saja tidak terlalu jauh dari sumber mata air. Setelah sepakat mengenai lokasi tenda, kami bertiga mulai mendirikan tenda, mengatur penempatan ransel dan tentu saja tidak ketinggalan kami membuat dapur yang menyambung dengan tenda kami, jadi kalau masak makan malam kami bisa melakukan nya dari dalam tenda, agar terhindar dari dingin nya udara malam.

Tenda dan dapur umum

Setelah tenda selesai didirikan, kami mulai berbagi tugas, Emon bertugas mengambil air di sumber mata air, saya membongkar ransel Emon yang berisi semua ”kebutuhan dapur” dan Ichil bertugas mengatur penempatan barang-barang termasuk bahan-bahan makanan yang dibeli Emon. Luar biasa, semua kebutuhan memasak lengkap dibeli emon tanpa ada yang tertinggal. Mulai dari garam, terasi, ikan asin jambal, kerupuk udang, beras, santan instan, bawang putih, bawang merah, daun bawang, seledri, minyak goreng, rawit merah, lada, ikan teri nasi, buncis, wortel semua diangkut sama Emon dari pasar Cibodas. Keuntungan punya partner gunung yang suka masak seperti Emon adalah, kita tinggal sebut mau masak apa, Emon udah tau apa saja yang harus disiapkan.

Bahan-bahan

Tapi yang membuat saya terpekik gembira adalah ketika saya menemukan dua bungkus cireng pedas dan tahu sumedang yang siap digoreng diatara bahan-bahan masakan yang dibawa Emon. Memang Emon juara deh. Kebetulan keinginan untuk ngemil datang menghampiri, rasanya cocok sekali sore-sore ngemil cireng dan tahu goreng ditemani oleh teh dan kopi panas. Jadilah setelah urusan rapih-rapih selesai, saya dan Ichil berkolaborasi menyalakan kompor, memasak air untuk kopi dan teh, terakhir baru kami mengoreng cireng pedas dan tahu sumedang.

Ichil on cook

Cireng pedas

Teh Thai

Ketika Emon kembali dari mengambil air, dia terkejut melihat tenda dan dapur yang sudah rapih dan tersenyum girang waktu kami menyuguhkan cireng, tahu dan kopi susu kesukaan nya. Dan sore itu kami habiskan dengan menikmati cireng dan tahu bawaan Emon, sambil memandang hamparan luas alun-alun surya kencana dan langit biru membentang.

Makan Malam

Semakin malam udara semakin dingin, cuaca sangat cerah karena memang sedang musim panas, langit malam penuh dengan taburan bintang. Kami bertiga mulai bersiap-siap masak makan malam. Emon langsung mempersiapkan nasi liwet andalan nya, dimulai dengan mencuci beras, meyiapkan bumbu dan mengaron. Selagi nasi di aron, emon dengan gesit mengulek sambal terasi yang bahan-bahan nya sudah disiapkan oleh Ichil. Sedangkan saya bertanggung jawab dengan menu sop sosis. Semua bahan-bahan untuk sop saya siapkan dari dalam tenda dengan menggunakan jacket tebal, kaos kaki berlapis dan kupluk pelindung kepala dan kuping dari udara dingin.

Febee on preparation

Hampir disetiap pendakian, untuk menu makan malam saya selalu masak masakan yang berkuah seperti soto atau sop, karena menurut saya masakan berkuah sangat ampuh melawan udara malam pegunungan. Apalagi kalau sop nya lengkap seperti sop yang saya buat pada pendakian kali ini, saya memasukan sosis, tahu jepang, sayuran seperti wortel, buncis dan kembang kol, sudah terbayang enak nya. Selagi saya menyiapkan bahan-bahan sop, Ichil dan Emon sudah selesai membuat sambal, menggoreng ikan asin, tahu dan tidak ketinggalan kerupuk udang. Setelah nasi liwet di Aron, proses berikut nya adalah mengukus. Dengan menggunakan dua kompor trangia, masing-masing kompor digunakan untuk mengukus nasi dan memasak sop. Setelah satu jam berlalu, akhir nya semua masakan yang kami persiapkan selesai juga. Walaupun kami cuman bertiga tapi jumlah masakan yang kami buat bisa cukup untuk 6 orang, kami benar-benar seperti sedang ber pesta. Coba lihat masakan yang kami masak, Nasi liwet, sambal terasi, ikan asin jambal, tahu goreng dan sop sosis.

Nasi liwet

ikan asinKrupuk
Sambal dadakSup SosisTahu sumedang

Ketika kami sedang menikmati makan malam, tiba-tiba terdengar kabar kalau di puncak Gede sedang ada badai, jadi para pendaki yang sudah buka tenda di puncak harus turun agar tidak terkena badai. Sambil makan kami memandangi titik-titik cahaya dari puncak gunung yang berasal dari senter para pendaki yang sedang turun menghindar dari badai. Sesekali kami mendengar seruan pendaki yang ketika melewati tenda kami ”Bau ikan asiiiin..lapaaar” atau ” ”Aduh bau sambal terasi, kepingin makan pakai sambal”. Sebenar nya saya mau aja mengajak pendaki-pendaki lapar itu untuk mampir dan makan malam bersama, tapi melihat kerepotan mereka yang belum mendirikan tenda, rasanya tidak mungkin. Akhirnya memang masakan kami banyak tersisa, tapi kami membagi nya dengan bapak penjual mie instan dan kopi, bersama dengan kedua anak nya yang masih kecil-kecil, yang kebetulan tenda merangkap warung nya tepat berada disebelah tenda kami. Dan pesta malam ini pun usai.

Sarapan Pagi

Ke esokan pagi nya kami dibangunkan oleh pekikan penjaja nasi uduk yang sedang menawarkan dagangan nya dari satu tenda ke tenda lain nya. Jangan takut kelaparan kalau mendaki Gunung Gede, karena ada banyak penjual makanan disini, untuk sekedar kopi dan mie instant pasti tersedia. Tapi gak seru kan kalau ke gunung yang dimakan mie instan terus. Makanya untuk menu sarapan, Ichil membuat sarapan ala hotel bintang lima buat kami di tengah-tengah alun-alun Surya Kencana ini. Yaitu : Omelette, sosis dan mashed potatoes. Memang Ichil sering kali didapuk untuk membuat sarapan kalau lagi di gunung, karena Omlette buatan Ichil emang enak sekali, tekstur nya bisa Fluffy.

pagi di surya kencana

Pada pendakian Gede kali ini, kami memang tidak berencana untuk summit, karena memang hanya untuk seru-seruan aja dan selain itu kami juga sudah pernah summit dua tahun yang lalu, jadi cukuplah kali ini hanya ”numpang” masak dan tidur saja di alun-alun Surya Kencana. Rencana nya setelah sarapan, kami akan pulang melalui jalur yang sama lagi yaitu jalur gunung putri kembali. Oleh sebab itu kami mempunyai banyak waktu di pagi hari ini untuk santai-santai menikmati segarnya udara pagi dan indah nya pemandangan surya kencana dan tentu saja ditemani segelas kopi hangat.

Tenda di Surya kencanaKami di surya kencana

Setelah puas ber cengkrama dengan alam, kami sudah merasa lapar. Emon mulai menyiapkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan Ichil, saya juga membantu menyiapkan sosis untuk digoreng, mengiris bawang bombay untuk keperluan membuat omlette. Untuk sarapan ini, masing-masing kami mendapat jatah, se sendok besar mashed potatoes, satu buah sosis goreng dan satu porsi omlette. Untuk membuat satu porsi omlette, Ichil membuat nya dari dua butir telur, ditambahkan sedikit susu cair, bawang bombai, garam dan lada. Untuk tingkat kematangan kita juga bisa request sama Ichil, mau yang setengah matang jadi masih terasa fluffy, atau dibuat matang dengan tekstur yang sedikit kering. Saya memilih pilihan yang pertama, omlette dibuat masih setengah matang dalam nya, saya biasanya menaburkan sedikit garam dan lada lagi diatas omlette, rasanya nikmat, dan memang cocok sekali kalau omlette ini dijodohkan dengan sosis dan mashed potatoes.

Breakfast

Untuk Mashed potatoes nya kami menggunakan tepung kentang, jadi hanya tinggal menyeduhnya dengan air panas, mencampur nya dengan sedikit susu, tambahkan garam dan potongan daun bawang..hopla ..mashed potatoes yang lezat langsung tersedia. Menurut saya, menu sarapan kami ini merupakan menu yang cocok untuk sarapan di gunung, selain lezat, memasak nya pun mudah dan tentu saja kaya akan protein, cocok sebagai sumber energi untuk turun gunung nanti.

Makan Siang

Setelah menikmati sarapan yang super lezat, kami bersiap-siap membongkar tenda. Ternyata bahan-bahan masak kami masih banyak yang tersisa, malas juga rasanya membawa nya turun kembali. Akhir nya semua sisa bahan-bahan masak kami hibahkan kembali ke bapak pemilik warung yang samalam kami kasih makan malam, kami hanya menyisakan sedikit bahan-bahan makanan untuk kami makan siang nanti.

Siap mendaki gunung gede

Sama seperti waktu naek, waktu tempuh kami pada saat turun juga sangat cepat. Hanya dalam waktu tiga jam kami sudah sampai di pintu gerbang kedatangan Gunung Putri. Tapi sebelum nya kami menyempatkan sebentar untuk makan siang. Karena belum terlalu lapar, kami cukup masak mie instant ditambah sayur-mayur sisa buat sop semalam. Tidak lupa secangkir teh hangat juga turut menemani.

Rasanya asyik juga naek gunung seperti ini, jalan santai menikmati alam tanpa ada target untuk cepat-cepat sampai ke puncak. Merasakan piknik di alam liar, menyalurkan hobi masak, makan sampai kenyang tanpa takut gemuk karena akan terbakar juga kalori nya. Keseruan seperti ini bisa terlaksana asalkan mempunyai partner yang asyik dan tentu saja sama-sama suka masak dan makan.

Kami memasak



One response to “Masak di Suryakencana”

  1. umar rahmat says:

    keren mbak…..kapan nih ada rencana masak2 di surken lagi?
    boleh ikutan ga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *