Desa Munduk

Waktu menunjukan pukul dua siang. Saya dan Ichil sedang berada di restoran Karang Sari Guest House, Desa Munduk Buleleng Singaraja, menunggu makan siang yang sudah kami order keluar. Memang ini makan siang yang terlambat, hal ini disebabkan karena kami baru saja kembali dari trekking mengelilingi desa Munduk. Dari jadwal semula yang hanya tiga jam Trekking, jadi molor menjadi lima jam. Rasanya tidak rela berpisah cepat-cepat dengan keindahan alam Munduk.

munduk hotel

Selama di Desa Munduk kami menginap di Karang Sari Guest House, sebuah penginapan sederhana milik Bapak Putu Agus Indradi. Walau sederhana tapi penginapan ini memiliki kamar-kamar yang luas dan bersih dengan teras-teras yang menghadap ke perbukitan dan persawahan hijau. Tepat di tengah-tengah halaman guest house terdapat sebuah taman bunga yang sangat terawat, biasanya taman bunga ini dimanfaat kan oleh pengunjung hotel untuk berjemur sambil membaca buku, karena suasana di kebun sangat tenang.

Teras

Saya mengetahui informasi hotel ini dari seorang teman. Selain suasana hotel yang nyaman, makanan dari restoran di Karang Sari Guest House ini mendapat banyak pujian juga dari teman saya ini. Oleh sebab itu, sehabis trekking, saya dan Ichil harus menyempatkan makan di restoran ini. Restoran nya sendiri berada di tengah taman bunga, berbentuk pendopo.

Teras

Dari restoran berbentuk pendopo ini kita bisa meilihat kesibukan ibu Ketut Yaston, istri dari Bapak Putu Agus Indradi memasak makanan yang kami order di dapur nya yang berbentuk open kitchen. Samar-samar kami mencium wangi nya masakan ibu Ketut, ditambah lagi angin sepoy-sepoy berhembus, aaahk rasanya tidak sabar menunggu masakan nya siap. Memang masakan tidak bisa cepat dihidang karena Ibu Ketut memasak satu persatu menu yang di order.

waterfall munduk

Sambil menungu pesanan datang, saya teringat kembali bagaimana seru nya kegiatan trekking kami tadi. Desa Munduk sebuah desa yang dikepung oleh pesona alam yang sangat indah dalam balutan hawa sejuk pegunungan, dengan latar belakang perbukitan. Seluas mata memandang hamparan hijau pohon kelapa tampak membentang. Walaupun desa ini sudah lama menjadi daerah tujuan wisata di Bali, namun tidak se-populer Ubud yang sudah ramai dikunjungi wisatawan.

pemandangan munduk

Oleh sebab itu di Desa Munduk ini kita masih bisa merasakan suasana tenang pedesaan khas Bali yang masih asli, sesuatu yang banyak dikejar wisatawan asing, makanya kami jarang sekali melihat wisatawan domestik di desa Munduk ini. Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan disini adalah hiking atau trekking. Biasanya jalur trekking nya adalah menyusuri pesawahan yang berbukit-bukit atau melihat suasana pedesaan dan aktivitas penduduk desa. Selain itu kita bisa juga mengunjungi pasar traditional desa .

 

Mlanting munduk

Agak sedikit jauh kita bisa mengunjungi danau kembar yaitu Danau Tamblingan dan Danau Buyan. Akan tetapi, kalau mau jalan yang dekat-dekat saja kita juga bisa melihat air terjun terbesar di Bali yaitu air terjun Langan Besae dan air terjun yang lebih kecil lagi, yaitu air terjun Melanting.

Ikan asam manis munduk

Setelah menunggu, akhir nya makanan yang kami pesan selesai dimasak. Kami memesan ayam betutu, ikan tuna asam manis, lawar dan timbungan ayam. Semua makanan datang secara bersamaan. Mari kita coba satu persatu masakan nya . Masakan pertama yang saya coba adalah ikan tuna asam manis, sebenar nya ini bukan menu yang biasa saya pilih, karena menurut saya terlalu mainstraim , tapi berhubung teman saya me rekomendasikan nya sebagai makanan yang harus saya coba disini, jadi saya mengikuti saran nya. Ternyata pilihan teman saya tidak salah, tuna asam manis rasanya pas,terasa nikmat. Saos tomat sebagai bahan utama nya tidak seperti saos tomat pabrikan, sehingga terasa segar, daging tuna nya pun lembut. Berhari-hari di Bali mencoba masakan yang kebanyakan ber bumbu traditional base genap, lalu mencoba tuna asam manis dengan bumbu modern seperti ini lidah saya seperti termanjakan.

ayam betutu munduk

Masakan kedua yang saya coba adalah ayam betutu. Ketika ayam betutu ini dihidangkan, saya sedikit kecewa dengan tampilan nya, karena tidak seperti yang saya bayangkan, tampilan ayam betutu ala ibu Ketut Yaston ini tampak sangat modern, tidak terlihat ayam yang dibungkus dengan daun pisang layak nya ayam betutu pada umum nya. Saya malah menemukan potongan paprika dan irisan buncis,Tapi ternyata saya tertipu oleh tampilan betutu, ibu Ketut Yaston memasak ayam betutu enak sekali, bumbu meresap sempurna, walau ayam betutu ini tampil modern tapi kuah betutu tetap terasa traditional dengan bumbu base genap nya. Masakan yang memadukan rasa traditional dengan tampilan modern.

Lawar munduk

Lanjut ke masakan ke tiga yaitu Lawar kacang panjang, toge dan irisan daun singkong. Seperti biasa, harus ada menu sayur disetiap masakan yang kami order.

Timbungan ayam munduk

Masakan ke empat ini bernama Timbungan Ayam, menu khas Bali ini mungkin tidak sepopuler lawar, ayam betutu, dan sate lilit yang nama nya sering kita dengar. Saking asing nya dengan masakan ini, saya sampai harus minta penjelasan langsung kepada ibu Ketut Yaston. Beliau menjelaskan, kalau Timbungan Ayam adalah masakan asli dari desa Munduk yang sudah jarang ditemukan, biasanya keluar pada hari-hari besar saja. Oleh sebab itu ibu Ketut Yaston sangat ingin melestarikan masakan ini. Kebetulan banyak tamu asing yang menyukai nya, karena memang rasanya sederhana, bumbu-bumbu nya terdiri dari bawang merah, bawang putih, merica, serei dan pala. Bahan utama nya adalah irisan daun singkong dan ayam yang dipotong kecil-kecil. Kuah Timbungan Ayam terasa segar dan hangat karena usur rempah-rempah merica dan pala. Masakan ini sangat cocok untuk cuaca desa Munduk yang sejuk daerah pegunungan. Saya beruntung bisa mecoba masakan khas Bali yang sudah jarang ditemui ini.

Sambal matah munduk

Rasanya tidak lengkap makan masakan Balai kalau tidak ditemani sambal matah nya. Entah kenapa ibu Ketut Yaston tidak memasukan sambal matah ke dalam buku menu. Ketika saya menanyakan hal ini kepada nya, beliau langsung masuk ke dapur dan dalam sekejab membuatkan sambal matah buat kami, sepiring sambal matah dengan aroma segar minyak kelapa.

Seperti nya tidak berlebihan jika teman saya merekomendasikan masakan ibu Ketut Yaston ini. Selain masakan nya yang enak, ibu Ketut Yaston juga sangat ramah menjelaskan kepada kami kuliner Bali. Saran saya, jika anda sedang berlibur ke Bali, wajib untuk berkunjung ke desa Munduk dan menginap di Karang Sari Guest House, mencoba kelezatan masakan ibu Ketut Yaston.

Karang Sari

GuestHouse & Restaurant

Desa Munduk, KEcamatan Banjar

Kabupaten Buleleng, Bali

Telp : +6282144844844 / 6281999678944



3 responses to “Desa Munduk”

  1. Aaaaah jadi kangen Munduk!

  2. ngiler lihat timbungan ayam munduknya!

  3. chile says:

    Ayooo datang ke munduk, Bali dengan suasana berbeda dan kuliner yang juga jelas khas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *