Street Food Bukit Tinggi (2)

Belum beranjak dari pusat kota Bukit Tinggi…setelah menikmati sarapan di Pasar Lereng, saran saya Anda jangan buru-buru  kembali ke Hotel, mari kita berkeliling pasar Bukit Tinggi. Pasar Bukit Tinggi terbagi menjadi dua, yaitu pasar bawah dan pasar ateh (atas), kedua pasar ini dihubungkan oleh tangga atau orang padang menyebut nya janjang  yang anak tangga nya berjumlah 40 oleh sebab itu janjang ini diberi nama janjang  ampe puluah yang sudah ada sejak tahun 1908.

Jenjang 40

Gunakan sepatu yang nyaman, mari kita olah raga sedikit dengan turun atau mendaki janjang empe puluah ini. Pemerintah kota Bukit tinggi sangat memperhatikan kebersihan janjang 40 ini, karena saya tidak melihat sampah ber tebaran di setiap anak tanggak. Pada sisi kanan dan sisi kiri tangga terdapat toko-toko kuno yang menjual berbagai kebutuhan, di anak tangga juga terkadang ada penjual makanan, jangan kuatir kecapean, udara sejuk kota bukit tinggi menghilangkan rasa penat.

Biasanya perjalanan saya di mulai di pasar bawah, pasar bawah adalah pasar basah nya Bukit tinggi, tempat pedagang berjualan sayur mayur, ikan segar, dan beraneka ragam bumbu. Saran saya, ke Padang jangan hanya mencoba makanan nya saja, mari tengok pasar basah nya, sangat menarik melihat semua kebutuhan dapur  yang dijual sampai akhirnya nanti terhidang di meja rumah makan menjadi sajian yang lezat.

Jajanan Pasar ateh

Setelah berkeliling di pasar bawah, saya akan menaiki jenjang  ampe puluah menuju pasar ateh. Di pasar Ateh ini, keseruan lain sudah menunggu, sulaman khas minang, mukena bordir yang indah,  macam-macam souvenir dan makanan kecil untuk oleh-oleh dapat kita temui di pasar ateh.

Rasa nya tidak lengkap jika acara susur pasar ini jika tidak ada jajan nya, jangan kuatir  ada banyak jajanan di Pasar Bukit Tinggi ini, ayok jajan….

Ampiang Dadiah

gerobak ampiang

Untuk menemui  gerobak penjual Ampiang Dadiah ini kita harus blusuk-blusuk terlebih dahulu diantara tenda-tenda pedagang kaki lima yang berjualan baju dan lain-lain nya, sesekali  kita akan disapa pedagang-pedagan yang menawarkan jualan nya dengan  teriakan “buliah uni”..”cari apa uni?” ..jangan merasa terganggu, nikmati saja, karena suasana pasar seperti ini tidak akan anda temui di Jakarta.

tabung dadiah

Gerobak penjual  ampiang  dadiah ini berada di tengah-tengah lapak di pasar Ateh, berbagai macam minuman segar dan makanan ringan dapat kita coba disini, seperti Ampiang dadiah , es tebak, es pokat dan sate. Gerobak ini mengingat kan saya akan bopet, yaitu istilah orang minang untuk menamai warung makan yang hanya  menjual makanan kecil dan minuman saja, ya seperti gerobak ampiang dadiah ini.

ampiang dadiah

Saran saya, jika ini adalah kunjungan pertama anda ke kota Bukit Tinggi, wajib hukum nya mencoba makanan yang satu ini, yaitu ampiang dadiah, jangan sampai menyesal karena tidak mencoba nya, walaupun tidak semua orang bisa menerima rasa “unik”  dadiah ini, tapi ini pengalaman yang tidak terlupakan.

Menurut Wikipedia,  Dadiah adalah yogurt tradisional khas Minangkabau yang terbuat dari susu kerbau .Dadiah difermentasi di dalam wadah dari bambu yang ditutup dengan daun pisang  atau daun waru yang telah dilayukan di atas api. Proses fermentasi dilakukan dalam suhu ruangan dan berlangsung hingga terjadi penggumpalan sekitar 2 sampai 3 hari.Dadih biasanya dikonsumsi sebagai sarapan pagi, dicampur dengan emping (sejenis kerupuk dari nasi) dan gula merah.Dadiah dapat juga dijadikan sebagai lauk pendamping nasi.

es tebak

Selain Ampiang dadiah kita bisa mecoba es tebak. Es tebak mirip dengan es campur pada umum nya, yang membedakan nya adalah campuran Tebak atau cendol yang terbuat dari beras . Didalam nya juga dicampurkan ketan hitam dan kolang-kaling, terakhir disiram dengan sirup gula merah.

es pokat

Jangan lupa Es Alpokat nya dicoba juga, campuran buah alpokat yang dihaluskan dan  disiram dengan sirup merah dan sirup gula merah.

Kaliki Santan

Propinsi Sulawesi Utara boleh mendapat julukan sebagai propinsi nyiur melambai, karena banyak nya pohon kelapa tumbuh disana. Tapi jangan salah, Propinsi Sumatra Barat  juga tidak kalah. Jika diperhatikan dengan seksama, mulai dari kita mendarat di Bandara International Minang Kabau, kita sudah disambut  oleh hamparan nyiur hingga ke pelosok  daerah.

Kaliki santan

Saya ingat, rumah nenek saya di Batu Sangkar, di halaman belakang rumah nya tumbuh lebih dari 10 pohon kelapa, begitu juga dengan tetangga sekitar nya. Sehingga apabila membutuhkan kelapa untuk memasak bisa tinggal petik dengan bantuan Baruak atau kera pemetik kelapa. Oleh karena itu, tidak heran jika pada banyak masakan Minang, peranan kelapa sangat penting, terutama santan nya.

Begitu juga dengan minuman yang saya temukan di depan Masjid Raya Pasar Ateh Bukit Tinggi. Namanya Kaliki Santan, Kaliki arti nya buah papaya, ya minuman ini adalah  buah papaya yang dicampur dengan santan dan susu kental manis. Walau perpaduan nya tidak umum tapi minuman ini  bisa dinikmati, perpaduan gurih nya santan bertemu dengan manis nya buah papaya. Bener kan ? orang minang ini gak bisa jauh dari santan, sampai buah papaya aja disantani…onde mande….

Sala Lauak

Kalau saya tidak salah, jajanan satu ini asal nya dari daerah pesisir Sumatra Barat, Pariaman. Karena  Lauak itu berarti ikan, baik itu ikan besar atau ikan teri, yaitu sumber daya alam yang melimpah di Kota Pariaman yang memang berada dipinggir pantai. Sedangkan Sala itu berarti  goreng, jadi bisa diartikan sala lauak adalah gorengan yang terbuat dari ikan.

Salalauak

Memang dari penampilan sala lauak ini mirip dengan gorengan / bakwan pada umum nya, hanya bedanya sala lauak bahan dasar nya adalah ikan teri. Bukan orang minang namanya, kalau tidak pintar mengolah bahan makanan menjadi makanan yang lezat. Ikan teri segar dicampur bersama tepung beras, sedikit cabai merah dan kunyit. Terakhir, penambahan daun kunyit yang diiris halus pada adonan menghasilkan rasa traditional yang kuat.

adonan salaluak

Kini Sala lauak sudah ekspansi ke seluruhh daerah di Sumatra Barat, bahkan sudah menjadi “gorengan” khas Sumatra Barat, bukan milik orang pariaman saja. Biasanya, sala luak ini dijual berbarengan dengan pergedel jagung.

Es Cendol Durian

Cendol

Masih di depan mesjid Raya Pasar Atas Bukit Tinggi, selain sala luak kita juga bisa mencoba Es cendol durian. Es cendol durian di bukit tinggi berbeda dibanding es cendol pada umum nya beda nya adalah dalam setiap gelasnya, es cendol ini ada cendol yang terbuat dari tepung sagu, emping beras, ketan putih, dan satu sendok daging durian di atasnya. Baru terakhir ditambahkan es batu dan diguyur gula merah cair. Ini termasuk jajanan favorite saya kalau ke Bukit tinggi.

Bersambung ke Street Foob Bukit Tinggi (3)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *