Sate Mak Syukur

Menulis review Sate Mak Syukur ini membawa kenangan masa kecil saya akan kampung halaman di Sumatra Barat. Sate Mak Syukur berada di kota sejuk Padang Panjang, kota kecil yang di kelilingi oleh gunung Marapi dan gunung Singgalang, sebuah daerah perlintasan arus lalu lintas antar kota di Sumatera Barat. Jika kita dari kota Padang menuju Bukittinggi, Payakumbuh dan Tanah Datar, kita pasti  akan melewati kota Padang Panjang ini. Kebiasaan saya dulu, jika habis berkunjung dari rumah nenek saya dari Papa di kota Bukit Tinggi, di perjalanan pulang menuju rumah nenek dari mama di Batu Sangkar, saya mewajibkan makan sate padang di Mak Syukur.

Plang nama

Sate Mak Syukur sudah berjualan sejak tahun 40 an, awal nya Mak syukur berjualan di gerobak, berkeliling kota Padang Panjang. Lalu pernah juga membuka warung di pasar Padang Panjang, di warung  ini lah dulu saya dan keluarga sering mampir. Karena warung nya kecil tapi pembeli nya banyak, sering kami harus menunggu lama untuk bisa mendapatkan kursi. Walau harus menunggu lama, tapi saya dengan senang hati menunggu, karena tau saya akan makan sate enak.

Sate padang mak syukur

Kuah Sate Mak syukur berwarna kuning kunyit, menyiratkan kalau memang sate Mak syukur ini mengambil gagrak kota Padang Panjang yang ciri kuah sate nya berwarna kuning kunyit, berbeda dengan sate padang gagrak kota pariaman yang warna nya lebih merah. Untuk daging nya menggunakan daging sapi, bersama lidah dan usus nya. Dalam penyajian nya Sate Mak Syukur menyediakan dua pilihan, mau per porsi atau mau per tusuk sate, jadi kalau tidak mau makan banyak, saya sarankan untuk pesan sate nya per porsi saja. Sebagai penutup, boleh mencoba lapek bugih dan kopi hitam khas Padang Panjang.

Coffee and lape bugis mak syukur

Menelusuri cerita tentang sate padang sangat menarik, berikut saya copy dari tulisan Almarhum Uda Barends, tokoh Senior di milis Jalansutra, tulisan yang sangat indah mengenai sejarah Sate Padang..

Semua bermula dari Pariaman, sebuah kota di pesisir Sumatera. Kedatangan para saudagar Islam dari Gujarat bukan hanya membuat kota ini berkembang pesat, tapi juga membuka jalur bagi perkembangan agama Islam di kota-kota pesisir Sumatera lain. Santernya berita dan kuatnya rasa ingin tahu membuat banyak penganut Islam mengaji ke Pariaman, termasuk Ibrahim Musa Parabek dari desa Parabek, Nagari Banuhampu. Desa yang kini termasuk dalam kota kecamatan Padang Luar ini hanya berjarak beberapa kilometer dari Bukittinggi. Syech Ibrahim Musa Parabek ini kelak dikenal sebagai pendiri Madrasah Sumatera Tawalib, sebuah sekolah mengaji yang maju. Lulusan sekolah ini diantaranya adalah ulama Buya HAMKA dan negarawan Adam Malik. Kebiasaan pergi mengaji ke tempat yang jauh seperti yang dilakukan Syech Ibrahim Musa Parabek ini sebenarnya adalah tradisi lama. Dalam tradisi setengah hijrah ini (karena lamanya waktu belajar mengaji), ikut terbawa pula budaya kuliner dari tempat asal. Konon kala itu sate Padang sudah ada di Padang Panjang, dibuat dari daging kerbau yang direbus terlebih dahulu dengan rempah-rempah. Sate ini ikut hijrah ke Pariaman, terbawa oleh pemuda-pemuda Padang Panjang yang belajar mengaji di sana. Sesuai dengan karakteristik pesisir Pariaman, sate dari Padang Panjang ini lalu mendapat sentuhan lebih banyak cabai yang dileburkan dalam bumbunya. Jadilah kuah sate gagrak Pariaman yang kental merah, gagah berani menantang kekuatan lidah untuk menahan sengatan pedas nan gurih.

Kuah sate Padang dibuat dari campuran kaldu rebusan daging dengan tepung beras, memberinya karakter kental yang memang dicari. Semakin ’segar’ (baru ditumbuk) tepung beras yang digunakan, semakin baik kualitas kuah sate. Tapi tepung beras yang terlalu banyak akan menyebabkan keringnya kuah yang menyebalkan itu

Sate padang mak syukur on fire

Kini sate padang berkembang mengikuti perkembangan jaman dan pengaruh kuliner dari luar minang, tampaknya sebuah culinary fusion sudah terjadi. Sate Padang tidak hanya ber gagrak Pariaman atau Padang Panjang saja. Pengaruh pendatang dari pulau Jawa ke Sumatra Barat jejak nya dapat terekam dalam sate padang di Batu Sangkar yang memasukan kacang tanah di dalam kuah nya, pengaruh dari gado-gado di jawa. Selain itu kita bisa mencoba sate padang yang daging nya bertabur parutan kepala sangrai  seperti sate padang yang banyak kita temui di daerah Payakubuh. Jika ditanya mana yang paling enak diantara semua sate padang itu ? Hal ini saya kembalikan ke selera masing-masing.

Menyiapkan sate padang

Puluhan tahun telah terlewati, kenangan masa kecil masih kuat membayangi, meskipun ada banyak variant sate padang yang sudah saya coba jika pulang kampung, mampir ke sate Mak syukur ini masih saya lakukan, walau untuk rasa seperti nya tidak senikmat seperti yang saya bayangkan diwaktu kecil dulu. Tapi  menikmati se piring sate padang yang berisi 5 tusuk daging dan lidah dengan siraman kuah sate panas yang kaya bumbu ditambah kerupuk jangek sebagai pelengkap tidak terlewatkan …

RM. Sate Mak Syukur     
Jl. Sutan Syahrir Silaing Bawah
Padang Panjang     
(O752) 83919



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *