Coto Kuda Turatea

Jeneponto, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang berada di ujung bawah pulau Sulawesi. Jarak tempuh dari Makassar – ibukota Sulawesi Selatan ke Jeneponto kurang lebih 2 jam perjalanan dengan jarak 95 km. Jika anda dari Kota Makasar menuju Tanjung Bira, maka akan melewati kota Jeneponto. Pada trip kami ke Tanjung Bira kemaren, pada saat berangkat kami melewati Jeneponto di tengah malam buta, sehingga kami tidak bisa melihat keindahan kota Jeneponto, baru pada saat kembali ke kota Makasar, keindahan kota Jeneponto dapat kami saksikan.

Saya mengakui kota-kota yang kami lalui dari Tanjung Bira ke Makasar sangat menarik. Ketika keluar dari kawasan pantai Bira kita akan disambut oleh desa Bira – Bulukumba yang terkenal sebagai desa pembuat kapal Pinisi, jejeran kapal-kapal Pinisi yang Indah dapat kita lihat, sayang sekali kami sudah terlalu lelah sehingga tidak berlama-lama disini. Selepas dari desa Bira, kita akan melihat banyak rumah-rumah adat bugis yang masih terawat di kanan kiri jalan. Kota-kota yang kami lalui lokasi nya tidak jauh dari pinggir laut, sehingga sesekali kami melihat lekukan bibir pantai dan debur ombak di kejauhan. Memasuki kota Jeneponto, kita juga bisa menyaksikan petak-petak pertanian garam, kota Jeneponto terkenal sebagai kota penghasil garam.

pinisi

Selain terkenal sebagai kota peghasil garam, sejak jaman dulu, kota Jeneponto terkenal dengan kudanya. Oleh karena itu kita dapat dengan mudah menjumpai kuda di kota Jeneponto ini . Hari menjelang petang ketika mobil Inova yang kami sewa melintas di jalan raya kota Jeneponto. Sebentar lagi matahari akan terbenam, pendaran cahaya nya menyulap langit biru menjadi orange , dari balik kaca mobil saya melihat kuda-kuda yang digembalakan secara liar di  tanah lapang, suasana sore begitu indah.

Daging kuda Coto kuda jeneponto

Aktivitas snorkeling  yang kami lakukan sepajang hari membuat kami kelelahan.  Walau begitu, rasa lapar mengalahkan lelah nya kami semua. Menurut bapak supir, makanan yang bisa ditemui di kota Jeneponto ini umum nya terbuat dari daging kuda, jadi kalo coto ya coto kuda atau konro, ya kondro kuda. Walaupun tidak pernah terbayangkan makan daging kuda, tapi rasa penasaran membuat saya meng iya kan tawaran bapak Supir untuk mempir ke warung konro yang terkenal di Jeneponto, nama nya Warung Konro Kuda Turatea

Coto kuda jeneponto

Warung ini begitu sederhana nya, tidak ada papan nama sebagai petunjuk. Ketika kami sampai  hari sudah gelap dan suasana sangat sepi, ternyata memang warung ini sebenar nya sudah hampir tutup, hanya tersedia 4 porsi coto saja, menu konro nya juga sudah habis. Tapi karena kata si Bapak Supir, coto di warung ini sayang untuk dilewatkan, maka kami tetap masuk dan membagi empat porsi coto untuk 6 orang.

Kecap manis coto kuda jeneponto

Kita semua tentu kenal dengan masakan soto. Namun orang Makassar menyebut coto, tidak pakai huruf “s” tapi “c’. Coto makasar ini berwarna hitam keruh dengan rasa yang kaya akan rempah dan nuts. Karena memang coto makasar menggunakan kacang tanah untuk campuran pada kuah, ini yang membedakan nya  dengan palubasa yang juga makanan khas dari Makasar. Jadi walaupun sama-sama kuah nya berwarna hitam, tapi bahan pembuatan nya berbeda, kalau coto hitam nya dari kacang tanah yang sudah digongseng terlebih dahulu, sedangkan palubasa hitam nya kuah berasal dari kelapa yang digongseng.

suasana coto kuda jeneponto

Ini adalah pengalaman pertama saya makan daging kuda. Menurut saya daging kuda tidak ada beda nya dengan daging sapi, walaupun tekstur nya lebih kasar tapi rasanya empuk tidak keras. Mungkin disini letak  kehebatan warung konro kuda Turatea ini, daging kuda yang biasanya identik dengan keras bisa dibuat empuk dan bumbu nya pun meresap sempurna. Saya tidak  merasakan keistimeweaan si daging kuda nya, tapi saya suka sekali dengan kuah coto nya, perpaduan rasa kaldu daging dan bumbu-bumbu nya tercampur sempurna.

Panci kuah coto kuda jeneponto

Saya sempat ngobrol dengan Ibu Yuliana, anak Pak Haji Amli, pemilik warung coto ini, katanya untuk mendapatkan kuah yang lezat itu kunci nya ada pada si kacang tanah yang harus di gongseng dengan kesabaran tinggi, dijaga tingkat kematangan nya agar tidak sampai gosong. Masih menurut Ibu Yuliana, warung coto ini sudah ada sejak 28 tahun yang lalu, dalam sehari Haji Amli bisa menghabiskan 2 ekor kuda untuk dimasak coto dan konro. Tidak heran memang, ketika kami makan pengunjung terus berdatangan tapi harus kecewa karna yang dicari sudah habis, bahkan ada yang beli kuah nya saja, mungkin pikirnya gak kebagian daging, kuah nya pun cukup. Ahk sayang sekali kami tidak bisa mencoba konro nya. Saya juga dijelaskan fungsi dari minyak kuda yang berderet di dinding warung, minyak kuda berfungsi sebagai minyak urut.

Minyak kuda jeneponto

Menemukan Warung Konro Kuda Turatea ini rasanya seperti menemukan Mutiara terpendam. Entah bagaimana caranya saya bisa kembali kesini lagi. Dengan alamat yang seadanya, papan petunjuk warung juga tidak ada, rasanya sulit. Mohon ma’f jika kualitas foto tidak bagus, karena warung ini tidak punya penerangan yang cukup.

*Foto kapal Pinisi diambil dari website http://writenreview.blogspot.com/ milik  Yan Bachtiar.

 

Warung Konro Kuda Turatea

Jl. Balang Loe Binamo

Jeneponto, Sulawesi Selatan

082345637343



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *