Warung Ibu Eha

Saya setuju sekali dengan ungkapan yang diucakpan oleh budayawan adal Yogyakarta, Butet Kertaradjasa, beliau mengatakan Tempat paling eksotis buat menguji kecerdasan lidah adalah di Pasar.  Denyut nadi kehidupan masyarakat tidak lepas dari pasar, karena dari pasar lah semua masakan yang lezat  itu berasal. Bagi pecinta kuliner, acara susur pasar merupakan kegiatan yang paling membahagiakan, berbagai kuliner dapat kita jumpai, bahkan jika beruntung kita akan menemukan “harta karun” yang menggugah selera.

Papan nama bu eha

Mengingat jauh ke belakang, ketika masih kecil, saya sangat senang jika diajak ibu untuk berbelanja ke pasar Tanah Abang, kenapa begitu ? karena setiap selesai menemani ibu belanja, saya akan diganjar dengan sepiring ketupat sayur padang gulai pakis lengkap dengan telur rebus dan kerupuk merah, mata saya berbinar bahagia kalau ibu sudah menggiring saya menuju kios pasar sayur dan berjalan kearah penjual ketupat sayur itu, rasanya semua lelah karna membuntuti ibu berjam-jam menyusuri pasar tanah abang terbayar sudah.

Satu lagi, walau pengalaman ini sudah lama berlalu, tapi masih terekam dengan jelas dalam ingatan saya, seorang ibu penjual soto kudus di tengah pasar di kota kecil bernama Singkut di Propinsi Jambi. Dari balik pikulan bambu nya, sang ibu yang selalu mengenakan kebaya jawa dan jarik kain itu meracik setiap mangkok soto yang dipesan pembeli nya. Yang menarik perhatian saya adalah, si ibu melakukan setiap urutan meracik soto itu penuh dengan rasa hikmat dan penghayatan tingkat tinggi, beliau memasukan satu persatu bahan-bahan soto kedalam mangkok, mulai dari toge, bihun, irisan ayam goreng, daun seledri, daun bawang, bawang goreng dan terakhir disiram oleh kuah soto yang panas menggeloggak, urutan nya selalu sama. Biasa nya pembeli duduk menglilingi dan dengan sabar menonton ritual ibu meracik soto  lalu tersenyum bahagia jika melihat  mangkok sudah disiram kuah soto, tanda soto sudah siap dibagikan.  Begitu juga dengan saya, yang menjadi langganan soto kudus ibu kebaya ini. Jujur saja, puluhan tahun kemudian, saya tidak ingat sama sekali rasa soto kudus di pasar Singkut itu, yang saya ingat hanyalah wajah bahagia si ibu setiap kali satu mangkok soto siap dihidangkan dan dinikmati oleh pelanggan setia nya.

Lorong bu eha


Kalau dulu hubungan mesra saya dengan pasar selalu di “comblangin” oleh ibu saya, kini setalah saya dewasa dan sering melakukan kegiatan traveling, saya melakukan nya sendiri. saya merasa perlu menyisipkan jadwal masuk ke pasar traditional disetiap daerah tujuan wisata yang saya datangi. Pasar traditional favorite saya adalah pasar Ubud dan pasar Bringharjo. Untuk pasar Ubud, rasanya saya sudah candu, segala ke eksotisan pulau dewata tergambar di pasar kecil ini, rasa rindu jika lama tidak singgah di pasar Ubud. Lain lagi dengan Pasar Beringharjo di Yogyakarta, seperti nya pasar yang satu ini tidak puas-puasnya memancarkan pesona nya, sejak dari pintu masuk, pengunjung disambut ramah penjaja jajanan pasar beragam rupa, seperti aneka jenang, getuk,  pedangan buah-buahan, bakmi jawa, embah-embah pedangan pecel, hingga lorong yang penuh dengan kios batik.

Warung bu eha

Belum lama ini, saya berkunjung kesebuah pasar traditional di kota Bandung, Pasar Cihapit nama nya. Menurut saya pasar ini tidak terlalu besar, jika dilihat dari luar pun kita tidak akan melihat keramaian ciri khas pasar, karena memang pasar berada di dalam. Untuk masuk kedalam kita harus menyusuri sebuah lorong terlebih dahulu, yang di kanan kiri nya terdapat penjual sayuran dan makanan. Mulai dari lorong ini saya sudah mulai ber safari  kuliner, mencari tahu ada kuliner menarik apa di pasar ini.

Kue balok2

Kue balok1

Kue balok

Di Depan pasar Cihapit saya menemukan penjual kue Balok, kue traditional asli Bandung, cikal bakal kue  bolu. Bahan-bahan pembuat kue balok sangat sederhana, Terbuat  hanya dari tepung terigu,telur,gula, margarine dan susu cair. Ciri khas kue balik adalah dibuat di atas arang yang dibakar dan dibuat dalam cetakan khusus yang berbentuk balok,mungkin karena itu dinamakan kue balok. Ciri khas kue balok adalah dibuat di atas arang yang dibakar dan dibuat dalam cetakan khusus yang berbentuk balok,mungkin karena itu dinamakan kue balok. Keberadaan kue balok sudah sangat jarang ditemukan sekarang, tergilas kue-kue modern.

Bu Eha

Akhirnya, Safari kuliner saya tuntas di ujung lorong, Disini saya bertemu dengan sebuah warung yang berhasil mengibarkan bujuk rayu nya kepada setiap pengunjung pasar untuk mampir. Warung Ibu Eha, yang sudah berjualan sejak tahun 1948. Warung ibu eha memanjakan selera pembeli dengan cara traditional, Hamparan masakan yang menggugah selera, aroma rempah bumbu yang berasal dari dapur yang letak nya berhimpitan dengan meja saji dan meja kasir. Tampak juga sebuah batu ulekan cabai yang besar untuk membuat sambal dadak, menu wajib yang harus selalu ada.

Lauk pauk bu eha 3

Lauk otak bu eha

Ibu Eha  merupakan generasi kedua pengelola warung nasi ini sepeninggal ibu kandung nya. Kini, ibu Eha yang sudah berusia 80 tahun masih gesit berjualan, biasanya dengan ramah ibu Eha akan menyapa setiap pembeli nya dengan santun menggunakan bahasa sunda yang halus. Jika pengunjung tidak tidak tahu arti nya, ibu Eha akan mengganti bahasa nya menjadi bahasa Indonesia.

Lauk pauk bu eha 2

Lauk pauk bu eha 1

Ibu Eha memasak dan menyiapkan dagangan sejak pukul 4 pagi. Dalam melayani pembeli, Bu Eha, yang sudah mulai renta, dibantu oleh anak dan mantunya. Masakan yang dijual di warung ini adalah masakan khas sunda, seperti berbagai jenis pepes, Ayam goreng dan ati ampela dengan bumbu kunyit berwarna kekuningan, berbagai pilihan ikan goreng kering, tidak ketinggalan macam-macam tumisan sayur  dan sop puni kut dijual. Pilihan nasi nya pun beragam, bisa memilih nasi merah atau nasi putih. Oh iya, soto Bandung Ibu Eha juga menjadi incaran pelanggan setia warung sunda ini.

Lalapan bu eha

How to eat bu eha 1

How to eat bu eha 2

Di Warung makan ini, setiap pembeli disediakan sayur rebusan daun singkong an daun papaya dalam sebuah piring, tidak ketinggalan sambal dadak nya. Pada kunjungan pertama saya ke warung sunda ibu Eha, saya mencoba menu bihun goreng masak kampung, tempe goreng,  tumis usus cabe merah, balado otak, urap sayur, pergedel udang dan pergedel kentang, untuk nasi, saya memilih nasi merah.

Nasi campur bu eha 1

Jangan Tanya apa yang sudah saya rasakan, panjang nya rentang usia rumah warung ibu Eha bukti ke lezatan rasa, tidak terpungkiri.  Sampai sekarang saya masih ingat bagaimana lembut nya balado otak Ibu Eha yang telah meluluhkan hati saya, begitu juga dengan pergedel kentang nya yang wajib wajib dan wajib dicoba.

Nasi campur bu eha 2

Berhubung warung Ibu Eha berada di dalam pasar, jadi jika anda ingin datang berkunjung harus menyusuri lorong-lorong  dalam pasar cihapit, tapi jika anda takut tersesat dalam labirin pasar, bisa telpon ke nomor telp (022) 4261453. Usaha kan jangan terlalu siang sampai disiini, kalau tidak mau kehabisan masakan ibu Eha.

Warung Sunda Ibu Eha
Pasar Cihapit
Telp : telp (022) 4261453
Bandung
Jam Operasi : 06:00 – 15:00



2 responses to “Warung Ibu Eha”

  1. etu says:

    Senin pagi pas meeting di Bandung, sempet mampir makan siang di sini. Cuman nyobain mihun, pepes telur asin, ama bandeng. Mungkin karna mepet ke jam 12, jadinya tinggal sedikit2 hahahaha.

  2. Febee says:

    Jam 12 an udah pada abis Tu..kalo kesini kudu pagi karena Ibu Eha jam 6 udah buka…cumi item nya juara banget loh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *