Carang Gesing

Carang Gesing

Dibesarkan dari keluarga jawa yang sangat kental membuat saya kecil banyak dikenalkan oleh orang tua saya dengan beragam makanan jawa tradisional dan dengan sangat kebetulan sekali walaupun mama tidak terlalu pandai memasak tapi beliau mempunyai seorang ibu yang tangannya bagaikan seorang malaikat yang bisa menghasilkan aroma semerbak, campuran antara bau asap kayu bakar dan hasil olahan masakan beliau tiap kali saya berkunjung  kerumahnya.

Almarhumah simbah putri, adalah inspirasi bagi saya dalam setiap memasak, rasanya terkagum-kagum dengan kelihaian beliau setiap kali melihat beliau menaburkan bumbu (tanpa sendok) lau di selingi dengan mengusap membersihkan jemaridengan kainnya dan segera berganti dengan bumbu-bumbu lainnya, disambung dengan goyangan tangan dalam mengaduk kuali atau wajan tak lupa beliau  memainkan corong bambu untuk mengatur besarnya api yang dihasilkan dari campuran kayu bakar serta daun kelapa kering,  wew.. sungguh excited bagi saya yang di Jakarta hanya mengenal kompor dengan bahan bakar gas.

Dari sekian banyak makanan tradisional yang diturunkan simbah putri ke mama saya, ada satu makanan yang saya hapal betul dan sering dibuat oleh mama saya di Jakarta, Rasa manis yang  lembut dengan tekstur yang halus bercampur dengan aroma daun pisang membuat makanan ini menjadi favorit simbah ku dan selalu tampil pada tiap acara kondangan atau acara halal bihalal di rumah beliau, dan saking kondangnya makanan ini dimata simbah dan mamaku sehingga  ketika kakak saya menikah, dan memberikan angsul-angsul, maka makanan ini menjadi salah satu yang di kemas untuk diberikan kepada keluarga besan walau beliau sadar besan nya bukan orang jawa.

Banyak keunikan lain dari makanan ini, yang pertama penamaannya, dari kecil tiap kali kalau tanya sama mama apa nama makanan ini maka mama selalu menjawab bahwa nama makana itu adalah ungkusan dan sepertinya jawaban mama itu cuma untuk buat saya diem deh soalnya ungkusan dalam arti bahasa jawa adalah dibungkus dan memang makanan ini dibungkus dengan daun pisang )

Lalu ga puas dengan jawaban itu, saya teruskan pertanyaan ini langsung ke pada simbah putriku dan kemudian munculah sebuah nama dari beliau bistuban (haiyah… kok ada bis nya??) dan kebetulan asisten mama dirumah dari tuban ga bisa terima kampungnya dinamai untuk makanan jadinya sempat berubah nama jadi bisklaten (karena simbahku orang klaten) dan… eng ing eng… setelah besar saya baru tau kalau namanya carang gesing dari tanyangan sebuah acara kuliner dan dikatakan bahwa makanan ini sudah susah dicari.. wah bapak pembawa acara itu harus sering main kerumah mama saya deh.. jaminan masih bisa menikmati , selain nama ada juga yang unik yaitu cara pembuatannya, mama saya sampai sekarang masih menggunakan cara lama untuk mengolah bahan dasar pisangnya, dulu beliau diajarkan untuk mencacah dengan pisau pisang-pisang tersebut hinga menjadi hancur.. hwaaaa sewaktu saya diajarkan dan sampai sekarang saya selalu protes kenapa tidak menggunakan blender saja??!!! Saya bilang, waktu jaman simbah kan memang ga punya blender jadi pisang harus dicacah pakai pisau, namun ibu saya tetap menolak keras, rasanya berbeda.. jadi bisa dibayangkan ketika proses mencacah pisang itu, akan terdengar suara ribut tak tok tak tok, beradunya pisau dan telenan yang melumatkan pisang-pisang tersebut.. huhuhuhu terdengar seperti suara pertempuran

Untuk tetap melestarikan makanan itu, saya sekarang sudah berani mencoba sendiri membuatnya (dengan tetap menggunakan pisau untuk mencacahnya) dan daun pisang untuk membungkusnya (walau sampai sekarang saya masih minta bantuan mama untuk bagian ini), dan saya harap juga makanan ini tetap menjadi legend bagi kami semua, selamat mencoba

Bahan :

1 sisir pisang kepok kuning (putih juga ga papa seh, cuma nanti rasanya dan warna kurang mantabh)

1 lt santan dari 1 butir kelapa

gula pasir

vanila

garam

2 butir telur

daun pandang

daun pisang

lidi potong 3 cm (untuk menyemat)

Cara Membuat :

– Cacah pisang sampai halus (ada beberapa jenis carang gesing yang pisangnya di potong-potong kecil, cuma tradisi keluarga saya di cincang sampai halus)

– Panaskan santan sampai matang dengan diberikan daun pandang agar harum, tunggu hingga dingin

–  Campur adonan pisang dengan santan aduk rata, lalu masukan gula, telor,vanila dan garam. (untuk mendapatkan hasil yang mantabh, santan kental yang digunakan pertama, baru di susul santan cair)

–  Siapkan daun pisang 2 lapis, potongan besar sebagai pembungkus luar dan potongan kecil sebagai alas, masukan adonan 2 sendok bungkus dan sematkan dengan lidi (bungkusan pisang seperti bungkus gadon atau pepes jamur)

– kukus 30 menit



4 responses to “Carang Gesing”

  1. spyroz says:

    waaaahhh… ternyata ada juga yg majang resepnya!! hehehe.. saya di rumah termasuk sering makan carang gesing, krn mama saya suka dan sering banget bikin carang gesing! 🙂

  2. lia says:

    Icil san, gulanya berapa banyak? dikira-kira aja yah tergantung selera? trus jadinya se-sisir itu banyak gak?
    tak coba minggu ini :))

  3. chile says:

    Hi Lia san,
    gulanya selera aja… di icip se kenanya di hati :), 1 sisir pisang jadinya banyak, karena di cacah terus dicampur santan..selamat mencoba.
    btw tanya sama Klaski san, dia tau banget tuh makanan ini…. wong klaten.com

  4. Baby says:

    Say, kalo di Klaten ndeso, kami emang menyebutnya Pipis (Pis) Tuban…eits..baca ‘i’ yang kedua kayak baca ‘e’ lho ya. Di Solo, Pipis Tuban ini bisa di sebut Carang, Carang Gesing atopun Pipis Tuban untuk bedain denga Pipis Roti yang non pisang. Pis Roti mah new invention kayaknya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *