Bakmi Mbah Mo Bantul

Sebagai pembuka, terlebih dahulu saya ingin sharing bagaimana ceritanya saya dan ichil bisa sampai menemukan warung mie legendaris dari kota bantul ini…

Udara Yogya sore itu sejuk semilir, mobil sewaan yang di kendarai oleh Ichil meluncur keluar kota Yogya mengarah ke kota bantul. Untuk menemukan tempat ini Kami hanya berbekal alamat yang tercatat di itenary dan sebuah peta Yogya. Perjalanan dari kota yogya ke kota bantul dapat dengan mudah kami tuju, tapi sebelah mana kota bantul sih lokasi Mbah Mo ini? Beberapa titik di peta, kami tandai sebagai petunjuk arah ke alamat yang dituju, akhirnya setelah tiga kali bertanya, dua kali menyusuri jalan yang sama baru akhirnya kami menemukan titik terang keberadaan warung Mbah Mo. Warung ini berada di tengah kampung, jalan menuju warung juga masih tanah. Deretan rumah sederhana mengepung keberadaan warung. Untung nya ada sebuah palang penunjuk yang meyakinkan kami kalau memang ini tempat yang kami tuju. Untuk menemukan tempat ini saja kami berdua sudah mengalami sebuah petualangan seru..puas rasanya bisa berhasil menemukan warung yang menjadi icon mie jawa jogja ini.

Mbah Mo bantul tampak depan

Kami tiba di tempat sekitar pukul lima sore, pengunjung belum ramai dan aktivitas memasak pun belum di mulai, saya melihat seoran wanita sepuh yang dibantu oleh asisten nya sedang mempersiapkan bahan-bahan membuat mie dalam sebuah dapur yang sangat sederhana, layaknya dapur-dapur di rumah jawa sederhana pada umum nya. Terdapat sebuah panci besar di atas tungku arang berisi kaldu ayam yang sedang menggelegak, kaldu inilah yang menjadi bahan utama pembuat mie godhok yang tersohor kelezatanya itu.

Mbak Mo bantul plang nama

Warung mbah Mo ini berdiri sejak tahun 80 an, Mbah Mo nya sendiri sudah meninggal dan kini diteruskan oleh istri, anak dan mantu. Setelah mempelajari buku menu, masing-masing kami memesan satu porsi mie godog dan mie goreng nya. Butuh kesabaran yang tinggi untuk dapat menikmati pesanan kami tadi. Ketika saya tiba, sudah ada lima orang pengunjung yang datang sebelum kami,jadi kami mendapatkan urutan ke 6 dan ke 7. Lama pengerjaan untuk menghadirkan sepiring mie godok atau mie goreng itu membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit, jadi kami harus menunggu satu jam baru pesanan kami keluar. Saran saya, jangan datang kesini dalam keadaan perut kosong, bisa emosi menunggu nya :). Satu lagi, kalau bawa anak kecil bekali mereka dengan mainan atau bacaan untuk mengisi waktu dan tentu saja cemilan buat pengganjal perut. Karena saking lama nya menunggu, saya mendengar tangisan anak kecil yang bosan menunggu dan kelaparan.

Akhirnya penungguan kami ber-ujung, menu yang kami pesan datang juga. Satu porsi mie godhok buat ichil dan satu porsi mie goreng buat saya sendiri. Model mie godog jawa ala mbah Mo bukan yang versi “nyemek” tapi kuah yang melimpah, campuran telur bebek dan kaldu dari ayam kampung memberikan sentuhan rasa yang nyamleng, tekstur mie yang dipilih jenis mie kecil dan kenyal. Dalam kuah mie saya menemukan beberapa iris daun kol, potongan ayam dan ati ampela, yang terakumulasi dalam kata juaraaa. Terbukti, banyak orang rela berjam-jam agar bisa menyeruput kuah mie godog ini.

Mie godog Mbah Mo bantul

Tidak kalah dengan mie godog nya, mie goreng mbah Mo juga dapat di sejajarkan tingkat kelezatanya. Dari aromanya sudah tercium kelezatannya, saya dapat merasakan tekstur mie yang lembut, pengaruh dari kocokan telur bebek yang di padukan dengan bumbu kemiri pada mie menghasilkan rasa yang uweenaaak. Tidak tertinggal acar timun kampung sebagai pelengkap. Rasanya terbalas sudah kebingungan mencari jalan dan lamanya menunggu tadi.

mie goreng Mbah Mo bantul

Untuk minuman kami memesan wedang jahe jeruk dan Wedang Uwuh, yang merupakan minuman traditional yang sudah jarang ditemui di Jakarta.

Setelah membayar kedua menu tersebut,harga mulai dari RP.10.000 hingga Rp. 16.000, saya minta ijin untuk mengambil foto dapur dan proses memasak mereka. Saya berpikir dari dapur sederhana inilah legenda mie jawa Itu berasal dan saya besyukur diberi kesempatan untuk merasakan kelezatan mie legendaris kota bantul ini.

Mbah mo putri Bakmi Mbah Mo Bantul

 

Bakmi Mbah Mo

Pakem Jl.Kaliurang KM 17

telp 0274 895115

Yogyakarta



5 responses to “Bakmi Mbah Mo Bantul”

  1. Tanya says:

    Ini seperti mie godhog bu hardjo sabar menanti di pasar kembang solo ya…. Nunggunya luamaaa tp enaknya setimpal dgn penantian 🙂

  2. JAYAVO says:

    Ada buka cabang dijakarta ga ya?

  3. Baby says:

    Feebe, koreksi alamatnya yak. Bakmi Mbah Mo ada di desa Code, Bantul. Arah yang lebih mudah dari Yogya, ambil jalan Parangtritis. Di km 12 (traffic light desa Manding – industri sepatu tuh), belok kanan dan ikuti jalan sampai perempatan di tengah sawah. Mulai dari situ ada papan penunjuk ke arah Mbah Mo. Jangan nyasar lagi yaaa :-))

    Me, love this place v much. Kalo malam2 ke Mbah Mo, suasananya mengingatkan aku pada acara hajatan di kampung: bapak2 ngobrol, ibu2 sibuk masak, teh jahe panas, denting piring sendok….ahahahayyy..mantab!!!

  4. chile says:

    Thank you untuk koreksinya baby.. mbah mo ini memang ngangenin dari suasana dan tentu mie jowo ne

  5. ceret says:

    Feb, lain kali kalo kesini setelah jam 7 malam. Tunggu mantunya mbah mo (mbah sur kalo ga salah namanya) selesai maen tenis hehehhee. Dia ini yang paling mantaffff masakannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *