Angkringan Lek Man

Bisa dibilang saya cukup sering mengunjungi jogja, Suasana khas dan wajah ramah kota membuat saya sering merindu untuk datang. Selain itu tentu saja beragam kuliner khas jogja yang sayang untuk dilewatkan. Salah satu yang merupakan legenda kuliner khas jogja adalah Angkringan. Angkringan adalah lapak atau gerobak yang menjual berbagai macam makanan seperti nasi kucing, gorengan, sate, teh manis, wedang jahe,kopi tubruk dan yang lain nya. Tampil dengan kesederhanaan nya, angkringan biasanya beroperasi di sore sampai dini hari. Tidak sulit menemukan angkringan di kota jogja, mungkin bisa jadi kota jogja adalah kota angkringan. Di setiap sudut gang dan jalan dapat dengan mudah di temukan lapak gerobak angkringan.
Angkringan

Jujur saja, walaupun sering mendengar istilah angkringan, namun saya belum pernah sekali pun mampir dan menikmati suasana malam kota jogja di Angkringan. Karena itu, pada liburan kali ini setelah menonton pertunjukan sendra tari ramayana di candi Prambanan, saya sengaja mencari angkringan sebelum kembali ke hotel. Saya mendapat referensi mengenai angkringan Lek Man, yang merupakan Angkringan legendaris, Lik man bernama sugiman (54), berjualan angkringan sejak tahun 1968. Awal nya Lik Man berjualan di selatan stasiun tugu. Sekarang angkringannya menempel tembok pagar pembatas stasiun tugu, di trotoar jalan wongsodirjan. Angkringanya mulai pukul 15 – 06.

Agak sulit bagi saya untuk menemukan lokasi angkringan Lek Man ini, setelah beberapa kali putar-putar jalan Wongsodirjan, akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk parkir di stasiun tugu saja dan berjalan kaki mencari dimana Lek Man Berjualan. Ternyata keputusan saya untuk parkir di stasiun sangat tepat, dengan berjalan kaki, angkringan lek man lebih mudah ditemukan.
Gorengan

Malam itu Angkringan Lek Man sangat padat, untung nya masih tersisa kursi untuk saya dan Ichil duduk. Lekman mengendalikan angkringanya dari kursi kecil yang di kanan kirinya terdapat banyak tumpukan hidangan dan tungku anglo yang terus menerus menyala oleh bara arang. Fungsi nya membakar berbagai macam makanan khas angkringan seperti baceman, jadah, cakar ayam, sate usus. Untuk minuman, Lek Man menjual beberapa jenis Wedangan atau minuman hangat, seperti aer jahe, susu jahe, teh dan yang terkenal dari angkringan ini adalah kopi Jos, saya tudak tau kopi jos ini menggunakan kopi merk apa, hanya terkstur kopi terasa kasar. Kopi yang sudah dibuat langsung di cemplungin potongan arang membara yg di pungut dari tungku.
Kopi Jos_bara
Ichil tanpa ragu langsung memesan satu gelas kopi Jos. Saya yang melihat langsung proses pembuatan kopi jos kok rasa nya ragu yah melihat lek Man mengambil bara panas dari tungku dan memasukan nya langsung ke dalam gelas kopi tubruk, dalam hati bertanya-tanya apa gak sakit perut ya nanti nya minum air campur arang ? apa gak jorok ? karena gak berani akhir nya saya memesan susu jahe saja.
Jahe susu & Sego Kucing
Ramuan susu jahe ini menurut saya sangat sempurna, rasa manis yang pas dan kehangatan yang ditumbul kan oleh jahe terasa sampai ke hati. Walau saya takut dengan kopi Jos, saya memaksa untuk mencoba nya, diluar dugaan, saya sukaa sekali, rasa kopi yang bercampur dengan bara arang membuat sensasi rasa smokey pada after tastenya, dan ini sensasi berbeda yang menurut ichil “sangat ngangenin” untuk tidak melewatkan kopi jos kalau “ngankring”, namun buat saya tetap gak berani minum banyak-banyak, masih tidak yakin dengan ke bersihan si arang  🙂
Kopi Jos

Untuk makanan nya saya memesan sego kucing dengan side dish gorengan tempe, tahu, baceman kepala dan beberapa tusuk sate usus dan sate kerang. Sebagai penutup, saya juga memesan teh “nasgithel” (panas,legi,kenthel), minuman dengan gagrak yang dapat menghasilkan kesegaran dan kehangatan tubuh. Sempurna. Angkringan ini seperti menjadi salam pembuka bagi siapa saja yang berkunjung ke Jogja.
Ketel



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *