Memasak di Gunung Gede

Dua minggu yang lalu, saya, dan beberapa orang sahabat melakukan pendakian ke Gunung Gede Pangrango, Cibodas, Jawa Barat. Tidak ada alasan khusus yang melatar belakangi kegiatan ini, hanya sekedar refreshing dan olahraga . Beberapa minggu sebelum hari H saya sudah mempersiapkan segala peralatan yang akan dibawa, begitu juga dengan mengontak dua orang Guide yang akan menemani kami selama pendakian.

Dalam perjanjian nya, tugas Guide adalah sebagai petunjuk jalan. Selain itu mereka juga bertugas membawakan peralatan kami dan menyiapkan makanan bagi seluruh anggota rombongan selama dua hari mendaki, bahan makanan bisa kita yang menyediakan atau minta tolong dibelikan oleh mereka. Mungkin bagi banyak pendaki, pilihan kedua adalah pilihan yang banyak dipilih, tapi tidak buat saya yang memang menyukai kegiatan masak memasak, tidak perduli di atas gunung sekalipun. Malahan, menurut saya memasak di udara terbuka seperti pada saat naik gunung ini sama asyik nya dengan pendakian itu sendiri. Rasanya saya sudah tidak sabar menunggu moment-moment itu. Saya seolah ditantang untuk menyiapkan makanan di udara yang sangat dingin, dengan peralatan yang seadanya dan dalam kondisi tubuh yang cukup lelah, rasanya puas jika bisa menghadirkan masakan bergizi buat diri sendiri dan teman-teman, bukan hanya sekedar mie instan. Menurut saya sudah sepantas nya tubuh ini mendapatkan kenikmatan rasa setelah seharian di paksa untuk bekerja keras.

Seperti pendakian kali ini, saya bertugas sebagai seksi konsumsi, saya bertanggung jawab mulai dari menyusun menu, berbelanja bahan makanan dan juga packing nya. Menyusun menu merupakan salah satu kegiatan yang mengasyikan, saya bisa tidak tidur saking semangat nya membayangkan menu apa yang cocok dalam pendakian ini . Berikut susunan menu yang saya buat :

makan pagi I : Sandwich Gandum isi cheese tuna / scramble egg
makan siang I : Soup asparagus
makan malam I : Soto ayam + tempe mendoan + sambel terasi

Makan pagai II : Omlete : cheese+mushroom+paprika /cheese + sosis
Makan siang II : Sop Jagung + Sosis goreng

Pemilihan menu nya saya susun berdasarkan beberapa pertimbangan : kandungan kalori dan nutrisi, kemudahan dalam mengolah makanan, lama perjalanan, ke praktisan pengemasan dan karekteristik lokasi atau gunung yang akan di daki. Beruntung Gunung Gede mempunyai mata air yang cukup banyak, sehingga untuk masalah air tidak terlalu bingung. Untuk Kandungan kalori dan nutrisi, makanan yang dikonsumsi sebaiknya tidak sekedar kenyang saja malah sebaiknya menghindari makanan dengan kadar karbohidrat tinggi seperti nasi. Karena nasi membutuhkan waktu enam jam untuk diolah oleh tubuh menjadi energy, pilih lah makanan dengan kadar protein yang tinggi.
Setelah urusan menu di setujui oleh rombongan, saya mulai berbelanja segala keperluan “dapur” dan segera packing, urusan packing ini juga membutuhkan keahlian dan memiliki seni tersendiri.
Ready to cook
Untuk sayuran sengaja saya memilih sayuran yang tidak mudah busuk seperti kol, jagung dan wortel yang akan saya olah menjadi soto ayam dan sop jagung. Satu buah kol ukuran sedang saya bungkus dengan wrapping plactic. Bahan lain seperti daun bawang dan seledri yang juga di butuhkan dalam pembuatan soto ayam dan sop jagung juga saya packing dengan cara yang sama, dengan terlebih dahulu saya cuci bersih lalu ditiriskan hingga benar-benar kering, kemudian dibungkus yang rapat dengan wrapping plastic dan terakhir dimasukan kedalam zipper plastic.
Untuk ayam nya sendiri saya sudah membumbui dan merebus nya, jadi saya membawa ayam yang sudah matang. Untuk packing nya, ayam yang sudah saya rebus dan bumbui dibungkus rapat dengan almunium foil baru dan setelah itu dimasukan ke dalam plastic zipper bag.
Untuk bahan masakan yang sudah dalam kemasan seperti sosis, asparagus kaleng, jagung kemasan, bihun dan tempe, saya tidak perlu mem packing ulang, hanya saya kelompokan dalam beberapa buah plastic zipper bag. Saya juga memanfaat kan ruang kosong dalam tuperware yang akan berfungsi sebagai piring atau mangkok sebagai wadah tempat beras dan telur ayam.
Sebagai bahan kuah saya menggunakan Bumbu siap saji dalam kemasan yang banyak tersedia di pasaran, meskipun kadang rasanya tidak sesuai keinginan. Namun tidak ada salahnya membawa bumbu siap saji tersebut dan menambahkan nya dengan bumbu segar agar rasa yang dihasilkan sempurna. Contoh nya pada masakan soto ayam, saya menggunakan bumbu soto ayam siap saji dalam kemasan, yang saya tambahkan dengan batang serai,daun jeruk dan perasan jeruk nipis pada kuah. Semua bumbu-bumbu tersebut saya packing dalam satu pelastik zipper yang saya beri tanda “pelastik bumbu”, di dalam nya juga terdapat bawang merah, bawang putih dan bawang bombay. Sedangkan pada pelastik zipper lain nya saya mengisi nya dengan bumbu-bumbu lain yang sudah saya kemas dalam pelastik zipper yang lebih kecil yaitu garam, lada, gula, penambah rasa non msg (tetap masakan sehat) dan bawang goreng.

Untuk bekal minuman saya membawa teh dengan berbagai pilihan rasa, teh tarik, coklat, capuchinno dan yang istimewa saya juga membawa kopi tubruk jenis arabika favorite saya lengkap dengan French press nya. Sudah membayangkan indah nya menyeruput secangkir kopi di ketinggian 2.220 meter.

Benar kan manegement packing ini kegiatan yang sangat mengasyikan, sebuah seni tersendiri agar semua bahan yang kita butuhkan selama masak di gunung dapat di packing secara lengkap, ringkas dan aman. Tidak tanggung-tanggung kami mengangkut ulekan cabe dari kayu ke atas gunung.

Akhirnya hari pendakian itu tiba. Kami bertemu dengan dua guide kami yang hebat-hebat yaitu Bapak Vijai dan Kang Emon. Semua perlengkapan di packing ulang oleh mereka, dimasukkan kedalam dua buah carrier ukuran 70 L yang akan mereka bawa, lalu hanya menyisakan barang-barang ringan keperluan pribadi saja dalam tas carrier kami masing-masing.

Pendakian yang semula kami rencanakan pada pukul tujuh pagi terpaksa tertunda karena hujan yang lebat, sambil menunggu hujan reda kami semua menikmati sarapan pertama kami yaitu sandwich gandum isi tuna dan irisan keju. Ikan tuna nya saya pilih tuna kemasan kaleng yang sudah masak. Untuk keju saya memilih keju kemasan kecil agar lebih praktis. Sarapan ini menjadi lebih sempurna dengan secangkir teh tarik hangat, dalam hati saya berdoa agar hujan segera berhenti.

Doa itu terjawab, hujan mereda, kami memulai pendakian. Dari awal dua teman saya Evie dan Goz sudah mendahului kami bertiga, di temani oleh bapak Vijay melesat di depan. Di setiap spot yang nyaman mereka menunggu kami rombongan belakang yang ditemani oleh kang Emon. Dalam pendakian ini kami mempunyai target 7 jam perjalanan untuk tiba di alun-alun surya kencana, tempat kami mendirikan tenda malam ini.
Jika Kondisi badan sudah lelah dan kami menemukan spot yang nyaman, seketika itu kami ber-istirahat dengan menikmati cemilan biskuit atau buah yang kami bawa. Kang Emon dan Bapak Vijay dengan sigap melakukan tugas mereka, yaitu memasak air panas dengan menggunakan kompor trangia untuk kami, agar kami dapat menghangatkan diri dengan secangkir kopi, teh atau coklat panas. Dan tentu saja mereka juga membantu menyiapkan makan siang. Sunggu pengalaman yang sangat mahal bisa menikmati semua ini .

Maka di mulai lah “pesta” itu. Setelah tenda di dirikan saya memulai mempersiapkan makan malam. Rencana nya selain memasak soto ayam, saya juga akan memasak tempe mendoan dan sambal bledeg. Untung nya saya mempunyai dua orang “asisten” yang sigap membantu, yaitu Kang emon dan Pak Vijay, dan tidak disangka ternyata Kang emon dahulu ber profesi sebagai penjual nasi liwet, hal ini di buktikan nya dengan membuat nasi liwet buat kami semua, saya merasa nasi liwet yang saya makan di atas gunung gede ini adalah nasi liwet ter enak yang pernah saya makan. Karena malam itu suhu mencapai 6 derajat celcius, terpaksa saya masak dengan menggunakan dua lapis jacket tebal.
theprocess
Kegiatan seperti ini membuat candu bagi saya, memasak ber-atap taburan jutaan bintang dan bulan sabit yang terasa sangat dekat di kepala, pemandangan malam yang spektakuler, juga saya merasakan kehangatan berkumpul bersama para sahabat. Walau hanya dengan penerangan head light seadanya,
omelette
saya dengan suskses dapat meracik menu makan malam bagi kami semua, persis seperti yang sudah saya bayangkan jauh-jauh hari sebelum nya, yaitu melawan dingin nya udara dengan menikmati semangkok soto ayam panas lengkap dengan limpahan suwiran daging ayam, irisan kol, bihun,sayur toge dan tentu saja kucuran jeruk nipis pada kuah yang tidak tertinggal.
Soto ayam
Si tempe mendoan habis dalam sekejap setiap kali saya angkat dari penggorengan, seperti tidak diberi kesempatan singgah dalam piring wadah.
tempe
Apalagi si mendoan bertemu dengan pasangan nya yaitu apalagi kalau bukan sambel bledeg.
cengek

“pesta” kami malam ini terasa mewah dengan menu tambahan menu dari Goz, yaitu Bangers & Mash, Goz yang berasal dari Inggris tidak mau kalah juga ingin memamerkan masakan traditional khas Inggris yang terdiri dari Cumberland Sausage, Mash Potatoes dan siraman kaldu daging.
bangers n mash
Setelah kenyang menyantap semua menu, malam itu kami tutup dengan perbincangan seru dan tentu saja secangkir coklat hangat juga turut menemani, sebagai bekal saya sebelum masuk kedalam peraduan sleeping bag yang hangat di dalam tenda.
Our dinner

“kemewahan” itu berlanjut di pagi hari nya.
breakfast preparation
Pagi ini saya membuat omelet dengan campuran susu cair, keju, paprika dan bawang bombai berteman dengan sosis goreng.

The Breakfast
Tentu saja kopi tubruk hasil olahan French press tidak terlewatkan, kombinasi menu yang sangat sempurna untuk mengawali hari.
coffee
Sengaja saya membuat menu full protein sebagai bekal energy untuk menyelesaikan pendakian kami hari ini, yang akan segera kami lanjutkan.
Sangat di sayangkan, ketika sampai di puncak Gede kabut tebal mentupi kawah, kami memutuskan menunggu kabut hilang sambil menikmati roti tawar yang di cocol kedalam capuchino hangat. Akhir nya setelah mengambil foto di beberapa spot, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin lain kali kami akan menikmati Indah nya puncak gunung gede dengan sempurna.
Seperti saya singgung di atas, kegiatan memasak di alam terbuka seperti candu buat saya karena sensasi nya yang luar biasa. Insya’Allah di pertangahan bulan depan saya akan melakukan perjalanan ke kampung Badui, Banten. Tunggu cerita pengalaman saya memasak di Kampung Badui….hmmmm kira-kira menu apa ya yang cocok ??



8 responses to “Memasak di Gunung Gede”

  1. Hebat! kesampaian naik gunung dan masak2an ya..wah kalau gw mah paling banter bawa kentang aja biar bisa bikin kentang goreng..:)) nice documentation shoots!

    Ayo naik gunung lagi !!!

  2. Sara says:

    Gile lu ke ke gunung bawa2 ulekan. You rocks!!! hahahaha

  3. chile says:

    Hi Sara,
    Ga cuma ulekan, gw juga bawa coffee plunger jadi setelah perut kenyang kita bisa menikmati kopi dengan pemandangan indah… yux naek gunung bareng 😀

  4. doni says:

    ajib gan. punten, ijin nyontek menunya ya 🙂

  5. Baby says:

    Gila kalian…keren abissss!!! Hahahahah..dulu waktu mudaan pernah naik gunung. Tapi sekarang ngebayangin naiknya aja kaki udah linu2… 🙁

  6. Herlan says:

    wah salam kenal sebelumnya..
    hebat deh buat masak2nya, saya sebenernya juga pengen kayak gitu. tapi selama ini beberapa kali naik gunung manajemen logistik saya masih buruk :(.

    biasanya makan nasi, telor, mi instan, tempe goreng, pernah juga nyoba sop dan gagal.

  7. wah salut mbak…semangatnya buat masak2an menu komplit gini di gunung 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *